ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ASMA BRONKIAL
Ns.
EDY SANTOSO, M.Kep
A.
Pengertian
Asma adalah penyakit
jalan nafas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan brokhi berespon
dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer & Bare, 2002).
Asma adalah suatu
penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil
pengobatan (Muttaqin, 2008).
Asma adalah wheezing
berulang dan atau batuk persisten dalam keadaan dimana asma adalah yang paling
mungkin, sedangkan sebab lain yang lebih jarang telah disingkirkan (Mansjoer,
2007).
Asma adalah suatu
penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-cabang trakeobronkhial
terhadap berbagai jenis rangsangan (Pierce, 2007).
Asma Bronkhial adalah
penyakit pernafasan objektif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkus.
Hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus
(Elizabeth, 2000).
B.
Etiologi
Sampai
saat ini etiologi dari Asma Bronkhial belum diketahui. Suatu hal yang yang
menonjol pada penderita Asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus. Bronkus
penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non imunologi.
Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering menimbulkan Asma adalah:
1.
Faktor ekstrinsik (alergik): reaksi alergik
yang disebabkan oleh alergen atau seperti debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu
binatang.
2.
Faktor intrinsic (non-alergik): tidak
berhubungan dengan alergen,seperti common cold, infeksi traktus respiratorius,
latihan, emosi, dan polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan.
3.
Asma gabungan. Merupakan bentuk asma yang
paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan
non-alergik (Smeltzer & Bare, 2002).
Ada beberapa hal yang
merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya seranganAsma Bronkhial yaitu:
1.
Faktor predisposisi Genetik
Faktor yang
diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai
keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit Asma Bronkhial jika terpapar dengan faktor
pencetus. Selain itu hipersensitivitas saluran pernapasannya juga bisa
diturunkan.
2.
Faktor presipitasi
a.
Alergen
Dimana
alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1)
Inhalan: yang masuk melalui saluran
pernapasan. Contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
polusi
2)
Ingestan: yang masuk melalui mulut. Contoh:
makanan dan obat-obatan
3)
Kontaktan: yang masuk melalui kontak dengan
kulit. Contoh: perhiasan, logam dan jam tangan.
b.
Perubahan cuaca
Cuaca
lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi Asma. Atmosfir yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan Asma. Kadang-kadang
serangan berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau.
c.
Stres.
Stres
atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Di samping gejala asma yang timbul
harus segera diobati penderita asma yang mengalami stres atau gangguan emosi
perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya
belum diatasi maka gejala belum bisa diobati.
d.
Lingkungan kerja
Lingkungan
kerja mempunyai hubungan langsung
dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia
bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industry tekstil,
pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau
cuti.
e.
Olah raga atau aktifitas jasmani
Sebagian
besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani
atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.
Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas
tersebut.
C.
Patofisiologi
Patofisiologi
dari asma yaitu adanya faktor pencetus seperti debu, asap rokok, bulu binatang,
hawa dingin terpapar pada penderita. Benda-benda tersebut setelah
terpaparternyata tidak dikenali oleh sistem di tubuh penderita sehingga
dianggap sebagai benda asing (antigen). Anggapan itu kemudian memicu
dikeluarkannya antibody yang berperansebagai respon reaksi hipersensitif
seperti neutropil, basophil, dan immunoglobulin E.
Masuknya
antigen pada tubuh yang memicu reaksi antigen akan menimbulkan reaksi
antigen-antibodi yang membentuk ikatan seperti key and lock (gembok dan kunci).
Ikatan antigen dan antibody akan merangsang peningkatan pengeluaran mediator
kimiawi seperti histamine, neutrophil chemotactic show acting, epinefrin,
norepinefrin, dan prostagandin.
Peningkatan
mediator kimia tersebut akan merangsang peningkatan permiabilitas kapiler,
pembengkakan pada mukosa saluran pernafasan (terutama bronkus). Pembengkakan
yang hampir merata pada semua bagian pada semua bagian bronkus akan menyebabkan
penyempitan bronkus (bronkokontrikis) dan sesak nafas.
Penyempitan
bronkus akan menurunkan jumlah oksigen luar yang masuk saat inspirasi sehingga
menurunkan oksigen yang dari darah. kondisi ini akan berakibat pada penurunan
oksigen jaringan sehingga penderita pucat dan lemah. Pembengkakan mukosa
bronkus juga akan meningkatkan sekres mucus dan meningkatkan pergerakan sillia
pada mukosa. Penderita jadi sering batuk dengan produksi mucus yang cukup
banyak (Harwina Widya Astuti 2010).
D.
Manifestasi
Klinis
Menurut Padila (2013),
adapun manifestasi klinis yang dapat ditemui pada pasien asma diantaranya
ialah:
1.
Stadium Dini
Faktor hipersekresi yang
lebih menonjol:
a.
Batuk berdahak disertai atau tidak dengan
pilek
b.
Ronchi basah halus pada serangan kedua atau ketiga,
sifatnya hilang timbul
c.
Wheezing belum ada
d.
Belum ada kelainan bentuk thorak
e.
Ada peningkatan eosinofil darah dan IgE
f.
BGA belum patologis
Faktor
spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan:
a.
Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
b.
Wheezing
c.
Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
d.
Penurunan tekanan parsial O2b.
2.
Stadium lanjut/kronik
a.
Batuk, ronchi
b.
Sesak napas berat dan dada seolah-olah
tertekan
c.
Dahak lengket dan sulit dikeluarkan
d.
Suara napas melemah bahkan tak terdengar
(silent chest)
e.
Thorak seperti barel chest
f.
Tampak tarikan otot stenorkleidomastoideus
g.
Sianosis
h.
BGA Pa O2 kurang dari 80%
i.
Terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler
kiri dan kanan pada Ro paru
j.
Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis
respiratorik
E.
Pemeriksaan
diagnostic
1.
Pemeriksaan laboratorium
a.
Pemeriksaan SputumPemeriksaan untuk melihat
adanya:
1)
Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan
degranulasi dan kristal eosinopil.
2)
Spiral curshman, yakni merupakan castcell
(sel cetakan) dari cabang bronkus.
3)
Creole yang merupakan fragmen dari epitel
bronkus)
4)
Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada
sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang
terdapat muscus plug.
b.
Pemeriksaan darah
1)
Analisa Gas Darah pada umumnya normal akan
tetapi dapat terjadi hipoksemia, hipercapnia, atau sianosis.
2)
Kadang pada darah terdapat peningkatan SGOT
dan LDH
3)
Hiponatremia dan kadar leukosit kadang diatas
15.000/mm3 yang menandakan adanya infeksi.
4)
Pemeriksaan alergi menunjukkan peningkatan
IgE pada waktu serangan dan menurun pada saat bebas serangan asma.
c.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
penunjang pada pasien asma dapat dilakukan berdasarkan manifestasi klinis yang
terlihat, riwayat, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium (Sujono riyadi &
Sukarmin, 2009). Adapun pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah:
1)
Tes Fungsi ParuMenunjukkan adanya obstruksi
jalan napas reversible, cara tepat diagnosis asma adalah melihat respon
pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum atau
sesudah pemberian aerosol bronkodilator (inhaler atau nebulizer), peningkatan
FEV1 atau FCV sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Dalam spirometry
akan mendeteksi:
a)
Penurunan forced expiratory volume (FEV)
b)
Penurunan paek expiratory flow rate (PEFR)
c)
Kehilangan forced vital capacity (FVC)
d)
Kehilangan inspiratory capacity (IC) (Wahid
& Suprapto, 2013)
2)
Pemeriksaan Radiologi
Pada
waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflamasi paru yakni radiolusen yang
bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diagfragma yang menurun.
Pada penderita dengan komplikasi terdapat gambaran sebagai berikut:
a)
Bila disertai dengan bronchitis, maka bercak-bercak
di hilus akan bertambah
b)
Bila ada empisema (COPD), gambaran radiolusen
semakin bertambah
c)
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat
gambaran infiltrase paru.
d)
Dapat menimbulkan gambaran atelektasis paru
e)
Bila terjadi pneumonia gambarannya adalah radiolusen
pada paru.
3)
Pemeriksaan Tes Kulit
Dilakukan
untuk mencari faktor alergen yang dapat bereaksi positif pada asma secara
spesifik
4)
Elektrokardiografi
a)
Terjadi right axis deviation
b)
Adanya hipertropo otot jantung Right Bundle
Branch Bock
c)
Tanda hipoksemia yaitu sinus takikardi, SVES,
VES, atau terjadi depresi segmen ST negative
5)
Scanning paruMelalui inhilasi dapat
dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada
paru-paru (Wahid & Suprapto, 2013).
F.
Penilaian
Derajat Serangan Asma
Menurut Wahid & Suprapto (2013), penilaian
derajat serangan asma yaitu:
Parameter
|
Ringan
|
Sedang
|
Berat
|
Ancaman henti nafas
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Aktivitas
|
Berjalan
Bayi: menangis keras
|
Berbicara
Bayi: tangis pendek & lemah
|
Istirahat
Bayi: berhenti makan
|
|
Bicara
|
Kalimat
|
Penggal kalimat
|
Kata-kata
|
|
Posisi
|
Bisa berbaring
|
Lebih suka duduk
|
Duduk bertopang lengan
|
|
Kesadaran
|
Mungkin teragitasi
|
Biasanya teragitasi
|
Biasanya teragitasi
|
Kebingungan
|
Mengi
|
Sedang, sering hanya pada pada akhir
ekspirasi
|
Nyaring, sepanjang
ekspirasi+inspirasi
|
Sangat nyaring, terdengar tanpa
stetoskop
|
Sulit/tidak terdengar
|
Sesak nafas
|
Minimal
|
Sedang
|
Berat
|
|
Otot bantu nafas
|
Biasanya “tidak”
|
Biasanya “Ya”
|
Ya
|
Gerakan paradox torako abdominal
|
Retraksi
|
Dangkal, retraksi interkostal
|
Sedang ditambah retraksi substernal
|
Dalam ditambah nafas cuping hidung
|
Dangkal/hilang
|
Laju nafas
|
Meningkat
|
Meningkat
|
Meningkat
|
Menurun
|
Sumber: Wahid & Suprapto, keperawatan medikal bedah
asuhan keperawatan pada gangguan sistem respirasi, 2013
G.
Pencehgahan
Asma
Menurut Sundaru &
Sukamto (2014), usaha-usaha pencegahan asma antara lain: menjaga kesehatan,
menjaga kebersihan lingkungan, menghindarkan faktor pencetus serangan asma dan
menggunakan obat-obat antiasma. Menghindari alergen pada bayi dianjurkan dalam
upaya menghindari sensitisasi atau pencegahan primer.
Beberapa study
terakhir menyatakan jika kontak dengan hewan peliharaan seperti kucing sedini
mungkin tidak dapat menghindari alergi, sebaliknya kontak sedini mungkin dengan
kucing dan anjing mampu mencegah terserang alergi lebih baik ketimbang
menghindari hewan-hewan tersebut.
Berbagai studi
menunjukkan bahwa ibu merokok selama kehamilan akan mempengaruhi perkembangan
paru anak, dan bayi dari ibu perokok, 4 kali lebih sering mendapatkan mengi
dalam tahun pertama kehidupannya. Ibu yang merokok selama kehamilan akan dapat
berefek pada sensitisasi alergen, walaupun hanya sedikit yang terbukti.
Sehingga disimpulkan merokok dalam kehamilan berdampak pada perkembangan paru,
meningkatkan frekuensi gangguan mengi pada bayi, tetapi mempunyai peran kecil
pada terjadinya asma alergi di kemudian hari. Sehingga jelas bahwa pajanan asap
rokok lingkungan baik periode prenatal maupun postnatal (perokok pasif)
mempengaruhi timbulnya gangguan atau penyakit dengan mengi.
H.
Penatalaksanaan
Adapun
penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk pasien asma yaitu:
1.
Prinsip umum dalam pengobatan asma:
a.
Menghilangkan obstruksi jalan napas.
b.
Menghindari faktor yang bisa menimbulkan
serangan asma.
c.
Menjelaskan kepada penderita dan keluarga
mengenai penyakit asma dan pengobatannya.
2.
Pengobatan pada asma
a.
Pengobatan farmakologia
Bronkodilator:
obat yang melebarkan saluran napas. Terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
1)
Adrenergik (Adrenalin dan Efedrin), misalnya
terbutalin/bricasama.
2)
Santin/teofilin (Aminofilin) KromalinBukan
bronkhodilator tetapi obat pencegah seranga asma pada penderita anak. Kromalin
biasanya diberikan bersama obat anti asma dan efeknya baru terlihat setelah
satu bulan
3)
KetolifenMempunyai efek pencegahan terhadap
asma dan diberikan dalam dosis dua kali 1mg/hari. Keuntungannya adalah obat
diberikan secara oral.
4)
Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg jika
tidak ada respon maka segera penderita diberi steroid oral.
b.
Pengobatan non farmakologia)
1)
Memberikan penyuluhan
2)
Menghindari faktor pencetus
3)
Pemberian cairand
4)
Fisioterapi napas (senam asma)
5)
Pemberian oksigen jika perlu(Wahid &
Suprapto, 2013)
c.
Pengobatan selama status asmathikus
1)
Infus D5:RL = 1 : 3 tiap 24 jam
2)
Pemberian oksigen nasal kanul 4 L permenit
3)
Aminophilin bolus 5mg/ KgBB diberikan
pelan-pelan selama 20 menit dilanjutkan drips RL atau D5 maintenance (20 tpm)
dengan dosis 20 mg/kg bb per 24 jam
4)
Terbutalin 0.25 mg per 6 jam secara sub kutan
5)
Dexametason 10 – 20 mg per 6 jam secara IV
6)
Antibiotik spektrum luas (Padila, 2013)
I.
Komplikasi
Adapun
komplikasi yang dapat ditimbulkan karena penyakit asma menurut Wahid &
Suprapto (2013), yaitu:
1.
Status Asmatikus: suatu keadaan darurat medis
berupa serangan asma akut yang bersifat refrator terhadap pengobatan yang
lazimdipakai.
2.
Atelektasis: ketidakmampuan paru berkembang
dan mengempis
3.
Hipoksemia
4.
Pneumothoraks
5.
Emfisema
6.
Deformitas Thoraks
7.
Gagal Jantung
J.
Rencana
Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a. Riwayat
-
Sering diawali oleh infeksi saluran nafas
akut, terutama pada orang dewasa
-
Iritan, stress emosi, keletihan, perubahan
endokrin, variasi suhu dan kelembapan, dan terpajan pada asap beracun yang
mungkin memperparah serangan asma intrinsic
-
Serangan asma mungkin dimulai dengan awitan
keparahan yang dramatis dan simultan, gejala multiple, atau tersembunyi dan
berbahaya, serta secara bertahap berkembang menjadi gagal nafas.
-
Terpajan pada allergen tertentu yang kemudian
diikuti dengan awitan mendadak dyspnea dan mengi serta sesak di dada juga
disertai dengan batuk yang menghasilkan sputum kental, jernih atau kuning.
b. Temuan pemeriksaan fisik
-
Dyspnea yang nyata
-
Dapat berbicara hanya beberapa kata sebelum
berhenti untuk bernafas
-
Penggunaan otot nafas tambahan
-
Diaphoresis
-
Peningkatan diameter anteroposterior toraks,
hiperesonans pada pemeriksaan fremitus
-
Ditemukan suara nafas mengi
-
Fase ekspiratori memanjang
-
Sianosis, konfusi, dan letargi yang
mengindikasikan awitan status asmatikus dan gagal nafas yang mengancam jiwa.
2.
Perencanaan
Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Keperawatan NANDA
|
Hasil
yang dicapai
(NOC)
|
Intervensi
(NIC)
|
Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas.
Yg berhubungan dengan:
□ Merokok/perokok pasif
□ Mucus berlebihan, sekresi tertahan,
eksudat di dalam alveoli
□ PPOK
□ Spasme jalan nafas, jalan nafas
alergi
|
Status pernafasan: patensi jalan
nafas
-
Mempertahankan
kepatenan jalan nafas dengan suara nafas bersih atau dibersihkan
-
Menunjukkan
perilaku yang bertujuan untuk meningkatkan bersihan jalan nafas
|
Manajemen
jalan nafas
Independen:
-
Auskultasi
suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan seperti mengi, cracles, atau
ronki.
-
Kaji
dan pantau frekuensi pernafasan. Catat rasio inspirasi-ke-ekspirasi
-
Catat
keberadaan dan derajat dyspnea, mis: laporan “lapar udara”, gelisah,
ansietas, hipoksia distress nafas, dan penggunaan otot aksesori
-
Bantu
klien mempertahankan posisi nyaman untuk memfasilitasi pernafasan dengan
meninggikan kepala tempat tidur, bersandar pada meja di atas tempat tidur,
atau duduk di tepi tempat tidur.
-
Dorong
dan bantu latihan pernafasan abdomen atau pernafasan dengan mendorong bibir
-
Observasi
batuk yang persisten, batuk kering, batuk basah. Bantu tindakan untuk
meningkatkan efektivitas upaya batuk.
-
Tingkatkan
asupan cairan menjadi 3000 mL/hari dalam toleransi jantung. Berikan air
hangat kuku.
-
Hindari
cairan es, terutama pada anak-anak
-
Batasi
pajanan pada polutan lingkungan, seperti: debu, asap, dan bantal bulu sesuai
dengan kondisi individual
Kolaboratif:
-
Berikan
medikasi, sesuai indikasi, mis: aginis beta (epinefrin, albuterol,…),
Bronchodilator (tiotropium), Antagonis leukotriene (montelukast, zileuton,…),
Inhibitor enzim fosfodiesterase tipe 4 (roflumilast), Obat-obatan anti
inflamasi oral, intravena (iv), dan steroid inhalasi (prednisone, methylprednisolone,
dexametason, …), antimikroba, derivate metilksantin (aminofilin, teofilin, …),
analgetik, supresan batuk, atau antitusif (codein).
-
Beri
humidifikasi tambahan, seperti humidifieraerosol
-
Bantu
dengan terapi pernafasan, seperti spirometri dan fisioterapi dada
-
Pantau
foto ronsen
|
Gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan:
□ Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
(sekresi tertahan, bronkhospasme, udara yang terperangkap)
□ Perubahan membrane kapiler alveolar
|
Status pernafasan: pertukaran gas
-
Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi dan oksigenasi ke jaringan yang adekuat dengan GDA
berada dalam kisaran normal klien dan terbebas dari gejala distress pernafasan
-
Berpartisipasi
dalam regimen terapi sesuai tingkat kemampuan individu dan situasi yang
dialami.
|
Manajemen
asam basa
Independent:
- Kaji frekuensi dan kedalaman
pernafasan. Catat penggunaan otot aksesoris, bernafas dengan mendorong bibir,
dan ketidakmampuan untuk berbicara atau bercakap-cakap.
- Tinggikan kepala tempat tidur dan
bantu klien mengambil posisi yang memudahkan kerja pernafasan.
- Kaji dan pantau warna kulit dan membrane
mukosa secara rutin
- Dorong pengeluaran sputum; suction
jika diindikasikan
- Auskultasi bunyi nafas, perhatikan
area penurunan aliran udara dan suara tambahan
- Palpasi dada untuk mendeteksi
fremitus
- Pantau tingkat kesadaran dan status
mental. Investigasi perubahan yang terjadi
- Evaluasi tingkat toleransi
aktivitas. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. Batasi aktivitas klien
dan dorong tirah baring atau istirahat di kursi selama fase akut
- Evaluasi pola tidur; catat laporan
kesulitan tidur. Batasi stimulant seperti cafein
- Pantau tanda vital dan irama jantung
Kolaboratif
- Beri oksigen tambahan
- Beri anti ansietas dengan hati-hati
- Bantu ventilasi tekanan positif
intermiten
|
Ketidakseimbangan nutrisi; kurang
dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan factor biologis – dyspnea; efek
samping medikasi; anoreksia, mual, atau muntah; keletihan
|
Status nutrisi:
-
Menunjukkan
pertambahan berat badan progresif kea rah tujuan dengan tepat
-
Mendemonstrasikan
perubahan perilaku dan gaya hidup untuk mendapatkan kembali dan mempertahankan
berat badan yang tepat
|
Terapi
nutrisi
Independent:
- Kaji kebiasaan diet, asupan makanan
saat ini. Catat derajat kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran
tubuh atau massa tubuh
- Auskultasi bising usus
- Berikan perawatan mulut dengan
sering, keluarkan sekresi yang dikeluarkan dengan cepat dan tepat, berikan
wadah kkhusus untuk pembuangan sekresi dan tissue.
- Dorong periode istirahat 1 jam
sebelum dan setelah makan.
- Berikan makanan dalam porsi sedikit namun sering
- Hindari makanan penghasil gas dan
minuman berkarbonasi
- Hindari makanan yang sangat panas
atau sangat dingin
- Timbang berat badan sesuai indikasi.
Kolaboratif
- Konsultasikan dengan ahli gizi untuk
memberikan makanan bernutrisi seimbang yang mudah dicerna melalui mulut,
makanan suplemen atau makanan yang diberikan melalui slang makanan, dan
nutrisi parenteral
- Tinjau albumin serum, glukosa, tes
fungsi hati, dan nilai laboratorium elektrolit
|
Referensi
Astuti, Widya Harwina. (2010). Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: TIM
Bulechek, G. M., Butcher, H. K.,
Dochterman, J. M., Wagner, C. M. (2013). Nursing
Intervention Classification (NIC). 6th Ed. United Kingdom:
Elsevier
Corwin,
E. (2006). Buku
Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Dosen
Keperawatan Medikal Bedah. (2017). Rencana
Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah. Diagnosa NANDA-I Intervensi NIC Hasil NOC. Jakarta:
EGC
Mansjoer,
A. (2007). Kapita
Selekta Kedokteran. Jakarta:
Media Aesculapius
Moorhead,
S., Johnson, M., Maas, M. L., Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC). 5th Ed. United
Kingdom: Elsevier
Muttaqin,
A. (2008). Buku
Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Imunologi. Jakarta:
Salemba Medika
NANDA
International. (2015). Nursing Diagnoses.
Definitions and Classification 2015 – 2017. 10th Ed.: WILEY
Blackwell
Padila.
(2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jogjakarta: Nu Med.
Price, S. A., & Wilson, L. M.
(2012). Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC
Riyadi, Sujono & Sukarmin.
(2009). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu
Smeltzer & Bare. (2012). Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth.
Edisi 8 Vol 2. Jakarta: EGC
Sundaru,
Heru, Sukamto. 2006. Asma Bronkial
dalam Sudoyo, Aru W, B. Setiyohadi,
I. Alwi, M. Simadhibrata,S.
Setiati, editor. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI
Wahid,
Abd. Dan Suprapto, Imam. (2013). Asuhan
Keperawatan Pada Gangguan Sistem
Respirasi. Jakarta: Trans Info Media.
No comments:
Post a Comment