MODEL-MODEL
TRIASE DALAM BENCANA
Ns.
Edy Santoso, M.Kep
A.
Pengertian Triase
Triase berasal
dari Bahasa Prancis “Trier” berarti
mengambil atau memilih. Adalah
penilaian, pemilihan dan pengelompokan penderita yang mendapat penanganan medis
dan evakusasi pada kondisi kejadian masal atau kejadian bencana. Penanganan
medis yang diberikan berdasarkan prioritas sesuai dengan keadaan penderita.
Tujuan
Triage adalah untuk memudahkan penolong untuk memberikan petolongan dalam
kondisi korban masalah atau bencan dan diharapkan banyak
penderita yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Triage secara umum
dibagi menjadi dua yakni Triage di UGD/IGD Rumah Sakit dan Triage di Bencana.
Triase adalah
proses khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit untuk
menentukan jenis perawatan gawat darurat serta transportasi. Tindakan ini
merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang pengelolaan musibah massal.
Proses triase inisial harus dilakukan oleh petugas pertama yang tiba ditempat
kejadian dan tindakan ini harus dinilai ulang terus menerus karena status
triase pasien dapat berubah. Saat ini tidak ada standard nasional baku untuk
triase. Metode triase yang dianjurkan bisa secara METTAG (Triage tagging
system) atau sistim triase
Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid Transportation).
Pendekatan yang
dianjurkan untuk memprioritisasikan tindakan atas korban adalah yang dijumpai
pada sistim METTAG. Prioritas tindakan dijelaskan sebagai berikut:
a.
Prioritas Nol (Hitam): Pasien mati
atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.
b.
Prioritas Pertama (Merah): Pasien cedera
berat yang memerlukan tindakan dan transport segera (gagal nafas, cedera
torako-abdominal, cedera kepala atau maksilo-fasial berat, shok atau perdarahan
berat, luka bakar berat).
c.
Prioritas Kedua (Kuning): Pasien dengan
cedera yang dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat
(cedera abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura
mayor tanpa shok, cedera kepala atau tulang belakang leher, serta luka bakar
ringan).
d.
Prioritas Ketiga (Hijau): Pasien degan
cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera (cedera jaringan lunak,
fraktura dan dislokasi ekstremitas, cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan
nafas serta gawat darurat psikologis).
Penuntun Lapangan START berupa penilaian
pasien 60 detik yang mengamati ventilasi, perfusi, dan status mental untuk
memastikan kelompok korban seperti yang memerlukan transport segera atau tidak,
atau yang tidak mungkin diselamatkan, atau mati. Ini memungkinkan penolong
secara cepat mengidentifikasikan korban yang dengan risiko besar akan kematian
segera atau apakah tidak memerlukan transport segera. Sistim METTAG atau
pengkodean dengan warna tagging system yang sejenis bisa digunakan
sebagai bagian dari Penuntun Lapangan START.
Sistem triase terdiri dari
Disaster dan Non Disaster. Disaster digunakan untuk
menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien dalam jumlah banyak.
Sedangkan Non Disaster digunakan untuk menyediakan perawatan sebaik
mungkin bagi setiap individu pasien.
1. Konsep Triase antara lain:
a. Tujuan utama
adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa
b. Tujuan kedua
adalah untuk memprioritaskan pasien menurut ke akutannya
c. Pengkatagorian
mungkin ditentukan sewaktu-waktu
d. Jika ragu,
pilih prioritas yang lebih tinggi untuk menghindari penurunan triage
2. Triase diklasifikasi
berdasarkan pada :
a.
Tingkat pengetahuan
b.
Data yang
tersedia
c.
Situasi yang
berlangsung
3. Sistem
klasifikasi menggunakan nomor, huruf atau tanda. Adapun klasifikasinya sebagai
berikut :
4. Prioritas 1
atau Emergensi
·
Pasien dengan kondisi mengancam nyawa,
memerlukan evaluasi dan intervensi segera
·
Pasien dibawa ke ruang resusitasi
·
Waktu tunggu 0 (Nol)
5. Prioritas 2 atau Urgent
· Pasien dengan
penyakit yang akut
· Mungkin
membutuhkan trolley, kursi roda atau jalan kaki
· Waktu tunggu 30
menit
· Area Critical
care
6. Prioritas 3
atau Non Urgent
· Pasien yang
biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal
· Luka lama
· Kondisi yang
timbul sudah lama
· Area ambulatory
/ ruang P3
7. Prioritas 0
atau 4 Kasus kematian
· Tidak ada respon
pada segala rangsangan
· Tidak ada
respirasi spontan
· Tidak ada bukti
aktivitas jantung
· Hilangnya respon
pupil terhadap cahaya
Klasifikasi
Triage Dalam Gambaran Kasus
1. Prioritas 1 –
Kasus Berat
·
Perdarahan
berat
·
Asfiksia,
cedera cervical, cedera pada maxilla
·
Trauma kepala
dengan koma dan proses shock yang cepat
·
Fraktur terbuka
dan fraktur compound
·
Luka bakar >
30 % / Extensive Burn
·
Shock tipe
apapun
2. Prioritas 2 –
Kasus Sedang
·
Trauma thorax
non asfiksia
·
Fraktur
tertutup pada tulang panjang
·
Luka bakar
terbatas
·
Cedera pada
bagian / jaringan lunak
3. Prioritas 3 –
Kasus Ringan
·
Minor injuries
·
Seluruh
kasus-kasus ambulant / jalan
4. Prioritas 0 –
Kasus Meninggal
·
Tidak ada
respon pada semua rangsangan
·
Tidak ada
respirasi spontan
·
Tidak ada bukti
aktivitas jantung
·
Tidak ada
respon pupil terhadap cahaya
Sistim METTAG atau sistim tagging dengan kode
warna yang sejenis bisa digunakan sebagai bagian dari Penuntun Lapangan START.
Resusitasi di ambulans atau di Area Tindakan Utama sesuai keadaan.
Ketua Tim Medik mengatur Sub Tim Triase dari
Tim Tanggap Pertama (First Responders) untuk secara cepat menilai dan
men tag korban. Setelah pemilahan selesai, Tim Tanggap Pertama melakukan
tindakan sesuai kode pada tag. Umumnya tim tidak
mempunyai tugas hanya sebagai petugas triase, namun juga melakukan tindakan
pasca triase dan setelah triase
selesai. Kondisi penilaian di
tempat dan prioritas triase antara lain :
a.
Pertahankan keberadaan darah universal dan
cairan.
b.
Tim respons pertama harus menilai lingkungan
atas kemungkinan bahaya, keamanan dan jumlah korban untuk menentukan tingkat
respons yang memadai
c.
Beritahukan koordinator untuk mengumumkan
musibah massal dan kebutuhan akan dukungan antar instansi sesuai yang
ditentukan oleh beratnya kejadian.
d.
Kenali dan tunjuk pada posisi berikut bila
petugas yang mampu tersedia :
1) Petugas Komando
Musibah
2) Petugas
Komunikasi
3) Petugas
Ekstrikasi/Bahaya
4) Petugas Triase
Primer
5) Petugas Triase
Sekunder
6) Petugas
Perawatan
7) Petugas Angkut
atau Transportasi
e. Kenali dan
tunjuk area sektor musibah massal :
1) Sektor
Komando/Komunikasi Musibah
2) Sektor
Pendukung (Kebutuhan dan Tenaga)
3) Sektor Musibah
4) Sektor
Ekstrikasi/Bahaya
5) Sektor Triase
6) Sektor Tindakan
Primer
7) Sektor Tindakan
Sekunder
8) Sektor
Transportasi
f. Rencana Pasca
Kejadian Musibah massal :
1) Kritik Pasca
Musibah
2) CISD (Critical
Insident Stress Debriefing)
Bencana merupakan peristiwa yang
terjadi secara mendadak atau tidak terncana atau secara perlahan tetapi
berlanjut, baik yang disebabkan alam maupun manusia, yang dapat menimbulkan
dampak kehidupan normal atau kerusakan ekosistem, sehingga diperlukan tindakan
darurat dan luar biasa untuk menolong, menyelamatkan manusia beserta
lingkunganya.
Penilaian awal korban cedera kritis akibat
cedera multipel merupakan tugas yang menantang, dan tiap menit bisa berarti
hidup atau mati. Sistem Pelayanan Tanggap Darurat ditujukan untuk mencegah
kematian dini (early) karena trauma yang bisa terjadi dalam beberapa
menit hingga beberapa jam sejak cedera (kematian segera karena trauma,
immediate, terjadi saat trauma. Perawatan kritis, intensif, ditujukan untuk
menghambat kematian kemudian, late, karena trauma yang terjadi dalam beberapa
hari hingga beberapa minggu setelah trauma).
Kematian dini diakibatkan gagalnya oksigenasi
adekuat pada organ vital (ventilasi tidak adekuat, gangguan oksigenisasi,
gangguan sirkulasi, dan perfusi end-organ tidak memadai), cedera SSP masif
(mengakibatkan ventilasi yang tidak adekuat dan/atau rusaknya pusat regulasi
batang otak), atau keduanya. Cedera penyebab kematian dini mempunyai pola yang
dapat diprediksi (mekanisme cedera, usia, sex, bentuk tubuh, atau kondisi
lingkungan). Tujuan penilaian awal adalah untuk menstabilkan pasien,
mengidentifikasi cedera/kelainan pengancam jiwa dan untuk memulai tindakan
sesuai, serta untuk mengatur kecepatan dan efisiensi tindakan definitif atau
transfer kefasilitas sesuai.
Saat penolong (tenaga medis)
memasuki daerah bencana yang tentunya banyak memiliki koran yang terpapar hal
yang pertama kali harus dipikirkan oleh penolong adalah Penilaian TRIASE. Triase dibagi
menjadi penilaian triase pada psikologis korban dan menilai
triase medis.
Dalam Triase Medis
sebaiknya menggunakan metode START (Simple Triage and Rapid Treatment) yaitu
memilih korban berdasarkan pengkajian awal terhadap penderita degan menilai
Respirasi, Perfusi, dan Status Mental.
Berikut langkah-langkah yang harus
dilakukan penolong saat terjadi bencana :
a.
Penolong pertama melakukan penilaian cepat tanpa
menggunakan alat atau melakuakan tindakan medis.
b.
Panggil penderita yang dapat berjalan dan kumpulkan
diarea pengumpulan
c.
Nilai penderita yang tidak dapat berjalan, mulai dari
posisi terdekat dengan penolong.
d.
Inti Penilaian Triage Medis (TRIASE dalam
bencana memiliki 4 warna Hitam (penderita sudah tidak dapat ditolong
lagi/meninggal), Merah (penderita mengalami kondisi kritis sehingga memerlukan
penanganan yang lebih kompleks), Kuning (kondisi penderita tidak kritis), Hijau
(penanganan pendirita yang memiliki kemungkinan hidup lebih besar. Penderita
tidak memiliki cedera serius sehingga dapat dibebaskan dari TKP agar tidak
menambah korban yang lebih banyak. Penderita yang memiliki hidup lebih banyak
harus diselamatkan terlebih dahulu).
1) Langkah 1: Respirasi
·
Tidak
bernapas, buka jalan napas, jika tetap tidak bernapas beri TAG HITAM
·
Pernfasan
>30 kali /menit atau <10 kali /meni beri TAG MERAH
·
Pernafasn
10-30 kali /menit: lanjutkan ke tahap berikut
2) Langkah 2: Cek perfusi (denyut nadi radial)
atau capillary refill test (kuku atau bibir kebiruan)
·
Bila CRT
> 2 detik: TAG MERAH
·
Bila CRT
< 2 detik: tahap berikutnya
·
Bila tidak
memungkinankan untu CRT (pencahayaan kurang), cek nadi radial, bila tidak
teraba/lemah; TAG MERAH
·
Bila nadi
radial teraba: tahap berikutnya
3) Langkah 3: Mental Status
·
Berikan
perintah sederhana kepada penderita, jika dapat mengikuti perintah: TAG KUNING
·
Bila tidak
dapat mengikuti perintah: TAG MERAH
Tindakan
yang haru CEPAT dilakuakn adalah :
·
Buka jalan
napas, bebaskan benda asing atau darah
·
Berikan
nafas buatan segara jika korban tidak bernafas
·
Balut tekan
dan tinggikan jika ada luka terbuka/perdarahan
Setelah
memberikan tindakan tersebut, penolong memberikan tag/kartu sesuai penilaian
triase (hijau, kuning, merah, hitam), setelah itu menuju
korban lainya yang belum dilakukan triase. Triase wajib dilakukan dengan kondisi ketika penderita/korban melampaui jumlah
tenaga kesehatan.
Berpikir merupakan suatu proses yang berjalan
secara berkesinambungan mencakup interaksi dari suatu rangkaian pikiran dan
persepsi. Critical berasal dari bahasa Grika yang berarti : bertanya,
diskusi, memilih, menilai, membuat keputusan. Kritein yang berarti to
choose, to decide. Krites berarti judge. Criterion
(bahasa Inggris) yang berarti standar, aturan, atau metode. Critical
thinking ditujukan pada situasi, rencana dan bahkan aturan-aturan yang
terstandar dan mendahului dalam pembuatan keputusan (Mz. Kenzie).
Pengertian berpikir kritis dikemukakan oleh banyak pakar. Beberapa di
antaranya : Gunawan
(2003:177-178) menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan
untuk berpikir pada level yang kompleks dan menggunakan proses analisis dan
evaluasi. Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif seperti
mengenali hubungan, manganalisis masalah yang bersifat terbuka, menentukan
sebab dan akibat, membuat kesimpulan dan mem-perhitungkan data yang relevan.
Sedang keahlian berpikir deduktif melibatkan kemampuan memecahkan masalah yang
bersifat spasial, logis silogisme dan membedakan fakta dan opini. Keahlian
berpikir kritis lainnya adalah kemampuan mendeteksi bias, melakukan evaluasi,
membandingkan dan mempertentangkan. Sementara itu
Rahmat (2010:1) mengemukakan berpikir kritis (critical thinking) sinonim
dengan pengambilan keputusan (decision making), perencanaan stratejik (strategic
planning), proses ilmiah (scientific process), dan pemecahan masalah
(problem solving).
Berpikir kritis mengandung aktivitas mental
dalam hal memecahkan masalah, menganalisis asumsi, memberi rasional, mengevaluasi,
melakukan penyelidikan, dan mengambil keputusan. Dalam proses
pengambilan keputusan, kemampuan mencari, menganalisis
dan mengevaluasi informasi sangatlah penting. Orang yang
berpikir kritis akan mencari, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat
kesimpulan berdasarkan fakta kemudian melakukan pengambilan
keputusan. Ciri
orang yang berpikir kritis akan selalu mencari dan memaparkan hubungan antara
masalah yang didiskusikan dengan masalah atau pengalaman lain yang
relevan. Berpikir kritis juga merupakan proses terorganisasi dalam
memecahkan masalah yang melibatkan aktivitas mental yang mencakup kemampuan: merumuskan masalah, memberikan argumen,
melakukan deduksi dan induksi, melakukan evaluasi, dan mengambil keputusan.
Critical
thinking
yaitu investigasi terhadap tujuan guna mengeksplorasi situasi, fenomena,
pertanyaan atau masalah untuk menuju pada hipotesa atau keputusan secara
terintegrasi. Menurut Bandman (1998) berfikir kritis adalah pengujian yang
rasional terhadap ide-ide, pengaruh, asumsi, prinsip-prinsip, argument,
kesimpulan-kesimpulan, isu-isu, pernyataan, keyakinan dan aktivitas. Pengujian
ini berdasarkan alasan ilmiah, pengambilan keputusan, dan kreativitas. Menurut
Brunner dan Suddarth (1997), berpikir kritis adalah proses kognitif atau mental
yang mencakup penilaian dan analisa rasional terhadap semua informasi dan ide
yang ada serta merumuskan kesimpulan dan keputusan. Berpikir kritis
digunakan perawat untuk beberapa alasan :
a. Mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi
b. Penerapan profesionalisme
c. Pengetahuan tehnis dan keterampilan tehnis
dalam memberi asuhan keperawatan.
d. Berpikir kritis merupakan jaminan yang terbaik
bagi perawat dalam menuju keberhasilan dalam berbagai aktifitas
Berpikir kritis juga dapat dikatakan sebagai
konsep dasar yang terdiri dari konsep berpikir yang berhubungan dengan proses
belajar dan kritis itu sendiri berbagai sudut pandang selain itu juga membahas
tentang komponen berpikir kritis dalam keperawatan yang di dalamnya dipelajari
karakteristik, sikap dan standar berpikir kritis, analisis, pertanyaan kritis,
pengambilan keputusan dan kreatifitas dalam berpikir kritis.
Berpikir kritis dalam keperawatan merupakan
komponen dasar dalam mempertanggungjawabkan profesi dan kualitas perawatan.
Pemikir kritis keperawatan menunjukkan kebiasaan mereka dalam berpikir,
kepercayaan diri, kreativitas, fleksibiltas, pemeriksaan penyebab (anamnesa),
integritas intelektual, intuisi, pola piker terbuka, pemeliharaan dan refleksi.
Pemikir kritis keperawatan mempraktekkan keterampilan kognitif meliputi
analisa, menerapkan standar, prioritas, penggalian data, rasional tindakan,
prediksi, dan sesuai dengan ilmu pengetahuan.
Proses berpikir ini dilakukan sepanjang waktu
sejalan dengan keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan
pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membentuk asumsi,
ide-ide dan membuat kesimpulan yang valid, semua proses tersebut tidak terlepas
dari sebuah proses berpikir dan belajar. Keterampilan
kognitif yang digunakan dalam berpikir kualitas tinggi memerlukan disiplin
intelektual, evaluasi diri, berpikir ulang, oposisi, tantangan dan dukungan.
Berpikir kritis adalah proses perkembangan
kompleks yang berdasarkan pada pikiran rasional dan cermat menjadi pemikir
kritis adalah denominator umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam
pemikiran yang disiplin dan mandiri.
Berpikir kritis merupakan suatu tehnik berpikir
yang melatih kemampuan dalam mengevaluasikan atau melakukan penilaian secara
cermat tentang tepat tidaknya atau layak tidaknya suatu gagasan. Berpikir
kritis merupakan suatu proses berpikir (kognitif) yang mencakup penilaian
analisa secara rasional tentang semua informasi, masukan, pendapat, dan ide
yang ada, kemudian merumuskan kesimpulan.
1. Konseptualisasi. Konseptualisasi
artinya proses intelektual membentuk suatu konsep. Sedangkan konsep adalah
fenomena atau pandangan mental tentang realitas, pikiran-pikiran tentang
kejadian, objek, atribut, dan sejenisnya. Dengan demikian konseptualisasi
merupakan pikiran abstrak yang digeneralisasi secara otomatis menjadi
simbol-simbol dan disimpan dalam otak.
2. Rasional dan
beralasan. Artinya argumen yang diberikan selalu
berdasarkan analisis dan mempunyai dasar kuat dari fakta fenomena nyata.
3. Reflektif.Artinya bahwa
seorang pemikir kritis tidak menggunakan asumsi atau persepsi dalam berpikir
atau mengambil keputusan tetapi akan menyediakan waktu untuk mengumpulkan data
dan menganalisisnya berdasarkan disiplin ilmu, fakta dan kejadian.
4. Bagian dari
suatu sikap. Yaitu pemahaman dari suatu sikap yang harus
diambil pemikir kritis akan selalu menguji apakah sesuatu yang dihadapi itu
lebih baik atau lebih buruk dibanding yang lain.
5. Kemandirian
berpikir. Seorang pemikir
kritis selalu berpikir dalam dirinya tidak pasif menerima pemikiran dan
keyakinan orang lain menganalisis semua isu, memutuskan secara benar dan dapat
dipercaya.
6. Berpikir adil
dan terbuka. Yaitu mencoba
untuk berubah dari pemikiran yang salah dan kurang menguntungkan menjadi benar
dan lebih baik.
7. Pengambilan
keputusan berdasarkan keyakinan. Berpikir kritis
digunakan untuk mengevaluasi suatu argumentasi dan kesimpulan, mencipta suatu
pemikiran baru dan alternatif solusi tindakan yang akan diambil. Wade (1995)
mengidentifikasi delapan kerakteristik berpikir kritis, yakni meliputi:
a. Kegiatan
merumuskan pertanyaan
b. Membatasi
permasalahan
c. Menguji data-data
d. Menganalisis berbagai pendapat
e. Menghindari pertimbangan yang sangat emosional
f. Menghindari penyederhanaan berlebihan
g. Mempertimbangkan berbagai interpretasi
h. Mentolerasi ambiguitas
Sebelum melanjutkan lebih jauh, kita perlu
mencoba untuk menemukan jalan yang membantu pelajar pemula untuk belajar
tentang berpikir kritis dan termasuk perkembangan model berpikir kritis yang
menjadi pokok bahasan. Banyak klasifikasi berpikir yang ditemukan di
literature. Costa and Colleagues (1985). Menurut Costa and Colleagues
klasifikasi berpikir dikenal sebagai “The Six Rs” yaitu :
a.
Remembering (Mengingat)
b.
Repeating (Mengulang)
c.
Reasoning (Memberi
Alasan/rasional)
d.
Reorganizing (Reorganisasi)
e.
Relating (Berhubungan)
f.
Reflecting
(Memantulkan/merenungkan
Meskipun The Six Rs sangat berguna namun
tidak semuanya cocok dengan dalam keperawatan. Kemudian Perkumpulan Keperawatan
mencoba mengembangkan gambaran berpikir dan mengklasifikasikan menjadi 5 model
disebut T.H.I.N.K. yaitu: Total Recall, Habits, Inquiry, New Ideas and
Creativity, Knowing How You Think.
a.
Total Recall (T)
Total Recall berarti
mengingat fakta atau mengingat dimana dan bagaimana untuk mendapatkan
fakta/data ketika diperlukan. Data keperawatan bisa dikumpulkan dari banyak
sumber, yaitu pembelajaran di dalam kelas, informasi dari buku, segala sesuatu
yang perawat peroleh dari klien atau orang lain, data klien dikumpulkan dari
perasaan klien, instrument (darah, urine, feses, dll), dsb.
Total recall juga
membutuhkan kemampuan untuk mengakses pengetahuan, dengan adanya pengetahuan
akan menjadikan sesuatu dipelajari dan dipertahankan dalam pikiran.
Masing-masing individu mempunyai pengetahuan yang berbeda-beda dalam pikiran
mereka. Ada sekelompok yang mempunyai pengetahuan sangat luas dan ada yang
sebaliknya. Keperawatan diawali dengan pengetahuan yang minimal tetapi kemudian
secara pesat meluas seiring dengan adanya sekolah-sekolah keperawatan.
b.
Habit/Kebiasaan (H)
Habits merupakan
pendekatan berpikir ditinjau dari tindakan yang diulang berkali-kali sehingga
menjadi kebiasaan yang alami. Mereka menerima apa yang mereka kerjakan
menghemat waktu dan mudah untuk dilakukan. Manusia selalu menggambarkan sesuatu
yang mereka kerjakan sebagai kebiasaan seperti “saya mengerjakan sesuatu di
luar pikiran”. Hal ini bukan kebiasaan dalam keperawatan karena tindakan yang
dilakukan tidak menggunakan proses berpikir. Hal ini terjadi jika proses
berpikir sudah berakar dalam diri mereka dalam melihat sesuatu atau kemungkinan
yang terjadi, di bawah sadar.
Habits mengikuti
sesuatu yang dikerjakan diluar metode baru setiap waktu. Contoh : pernahkah
kita mengendarai kendaraan dan apakah pernah kita ingat pepohonan yang pernah
kita lewati? Yang kita pikirkan dan harapkan adalah supaya kita terhindar dari
kecelakaan.
Cardipulmonary
Resuscitation (CPR) adalah suatu kebiasaan yang sangat penting
dalam keperawatan. Ketika seseorang menjelang ajal, sebuah solusi yang cepat
yang dibutuhkan disini adalah melakukan pijat jantung (CPR), memberikan
injeksi, mempertahankan suhu tubuh, memasang kateter, dan aktivitas lainnya.
Hal tersebut merupakan suatu kebiasaan yang alami terjadi dan dilakukan oleh
perawat.
c.
Inquiry/Penyelidikan/menanyakan
keterangan (I)
Inquiry merupakan
latihan mempelajari suatu masalah secara mendalam dan mengajukan pertanyaan
yang mendekati kenyataan. Jika kita berada di tingkat pertanyaan ini dalam
situasi social, kita akan disebut “Mendesak”. Hal ini meliputi penggalian data
dan pertanyaan, khususnya pendapat dalam situasi tertentu. Ini berarti tidak
menilai dari raut wajah, mencari factor-faktor yang menyebabkan, keragu-raguan
pada kesan pertama, dan mengecek segalanya, tidak ada masalah bagaimana
memperlihatkan ketidaksesuaian.
Inquiry merupakan
kebutuhan primer dalam berpikir yang digunakan untuk menyimpulkan sesuatu.
Kesimpulan tidak dapat diambil jika tanpa inquiry, tetapi kesimpulan akan lebih
akurat jika menggunakan inquiry. Inquiry bisa
diwujudkan melalui :
1) Melihat sesuatu
(menerima informasi)
2) Mendapatkan kesimpulan awal
3) Mengakui keterbatasan pengetahuan yang dimiliki
4) Mengumpulkan data atau informasi mendekati
masalah utama
5) Membandingkan informasi baru dengan yang sudah
diketahui
6) Menggunakan pertanyaan netral
7) Menemukan satu atau lebih kesimpulan
8) Memvalidasi kesimpulan utama dan alternative
untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi.
d.
New Ideas and Creativity (N)
Ide baru dan kreativitas terdiri dari model
berpikir unik dan bervariasi yang khusus bagi individu. Kekhususan dalam
berpikir ini akan selalu dibawa individu selama hidupnya dan biasanya membentuk
kembali norma. Seperti Inquiry, model ini membawa kita sesuai ide dari
literature. Berpikir kreatif merupakan kebalikan dan akhir dari Habits Model
(kebiasaan). Dari kalimat “melakukan sesuatu seperti biasanya” menjadi “Mari
mencoba cara baru”. Berpikir kreatif tidak untuk menjadi pengecut, tetapi salah
satu kadang-kadang akan terlihat bodoh dan tidak sesuai dengan ketentuan yang
ada. Pemikir kreatif menghargai kesalahan yang mereka lakukan untuk mempelajari
nilai.
Ide baru dan kreativitas sangat penting dalam
keperawatan karena merupakan dasar dalam merawat pelanggan atau klien. Banyak
hal yang harus dipelajari perawat untuk menjadi cocok, terpadu, dan bekerja
menyesuaikan keunikan klien. Perawat mempunyai standart pendekatan untuk
menghemat waktu perawatan dan secara keseluruhan bekerja dengan baik, tetapi
cara kerja perawat berbeda satu sama lain. Contoh : Yudi yang tinggal di rumah
perawatan menghabiskan sisa harinya di atas kursi roda, keluar-masuk ke ruangan
yang sama tiap harinya. Dia tidak pernah berkata kepada seorangpun meskipun
perawat mengulangi kata-kata yang sama dan sudah memahami cara berkomunikasi.
e.
Knowing How You Think / Mengetahui apa yang kamu fikirkan (K)
Knowing How You
Think
merupakan yang terakhir tetapi bukannya yang paling tidak dihiraukan dari model
T.H.I.N.K. yang berarti berpikir tentang apa yang kita pikirkan. Berpikir
tentang berpikir disebut “metacognition”. Meta berarti “diantara
atau pertengahan” dan cognition berarti “Proses mengetahui”. Jika kita
berada di antara proses mengetahui, kita akan dapat mengetahui bagaimana kita
berpikir. Yang perlu dipelajari :
1)
Apakah hal ini
sulit dilakukan? (untuk semua orang)
2) Mengapa hal ini sulit untuk dikerjakan?
3) Satu alasan mengapa hal ini sulit dilakukan
adalah karena ada kosakata special dari akhir analisis yang perlu menggambarkan
BAGAIMANA berpikir.
Freely mengidentifikasi 7 metode critical
thinking :
a.
Debate : metode yang
digunakan untuk mencari, membantu, dan merupakan keputusan yang beralasan bagi
seseorang atau kelompok dimana dalam proses terjadi perdebatan atau argumentasi.
b.
Individual
decision
: Individu dapat berdebat dengan dirinya sendiri dalam proses mengambil keputusan.
c.
Group
discussion
: sekelompok orang memperbincangkan suatu masalah dan masing-masing
mengemukakan pendapatnya.
d.
Persuasi : komunikasi
yang berhubungan dengan mempengaruhi perbuatan, keyajinan, sikap, dan
nilai-nilai orang lain melalui berbagai alas an, argument, atau bujukan. Debat
dan iklan adalah dua bentuk persuasi.
e.
Propaganda : komunikasi
dengan menggunakan berbagai media yang sengaja dipersiapkan untuk mempengaruhi
massa pendengar.
f.
Coercion : mengancam
atau menggunakan kekuatan dalam berkomunikasi untuk memaksakan suatu kehendak.
g.
Kombinasi
beberapa metode.
Berbagai elemen yang digunakan dalam penelitian
dan komponen, pemecahan masalah, keperawatan serta kriteria yang digunakan
dengan komponen keterampilan dan sikap berpikir kritis. Elemen berpikir
kritis antara lain:
a. Menentukan tujuan
b. Menyususn pertanyaan atau membuat kerangka
masalah
c. Menujukan bukti
d. Menganalisis konsep
e. Asumsi
Perspektif yang digunakan selanjutnya
keterlibatan dan kesesuaian kriteria elemen
terdiri dari kejelasan, ketepatan, ketelitan dan keterkaitan.
Aspek-Aspek Berfikir Kritis
Kegiatan berpikir kritis dapat dilakukan dengan
melihat penampilan dari beberapa perilaku selama proses berpikir kritis itu
berlangsung. Perilaku berpikir kritis seseorang dapat dilihat dari beberapa
aspek :
a. Relevance. Keterkaitan dari pernyataan yang
dikemukan.
b. Importance. Penting
tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukaan.
c. Novelty. Kebaruan dari
isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau informasi baru maupun dalam sikap
menerima adanya ide-ide orang lain.
d. Outside
material. Menggunakan
pengalamanya sendiri atau bahan-bahan yang diterimanya dari perkuliahan.
e. Ambiguity
clarified. Mencari
penjelasan atau informasi lebih lanjut jika dirasakan ada ketidak jelasan.
f. Linking ideas. Senantiasa
menghubungkan fakta, ide atau pandangan serta mencari data baru dari informasi
yang berhasil dikumpulkan.
g. Justification. Memberi
bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi atau kesimpulan
yang diambilnya. Termasuk didalamnya senantiasa memberikan penjelasan mengenai
keuntungan dan kerungian dari suatu situasi atau solusi.
Pemecahan masalah termasuk dalam langkah proses
pengambilan keputusan, yang difokuskan untuk mencoba memecahkan masalah
secepatnya. Masalah dapat digambarkan sebagai kesenjangan diantara “apa yang
ada dan apa yang seharusnya ada”. Pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan yang efektif diprediksi bahwa individu harus memiliki kemampuan
berfikir kritis dan mengembangkan dirinya dengan adanya bimbingan dan role
model di lingkungan kerjanya. Langkah-langkah
pemecahan masalah antara lain
a.
Mengetahui
hakekat dari masalah dengan mendefinisikan masalah yang dihadapi.
b.
Mengumpulkan
fakta-fakta dan data yang relevan.
c.
Mengolah fakta
dan data.
d.
Menentukan
beberapa alternatif pemecahan masalah.
e.
Memilih cara
pemecahan dari alternatif yang dipilih.
f.
Memutuskan
tindakan yang akan diambil.
g.
Evaluasi.
Berpikir sistemik (Systemic
Thinking) adalah sebuah cara untuk memahami sistem yang
kompleks dengan menganalisis bagian-bagian sistem tersebut untuk kemudian mengetahui
pola hubungan yang terdapat didalam setiap unsur atau elemen penyusun sistem
tersebut. Pada prinsipnya berpikir sistemik mengkombinasikan dua kemampuan
berpikir, yaitru kemampuan berpikir analis dan berfikir sintesis.
Ada beberapa istilah yang sering
kita jumpai yang memiliki kemiripan dengan berpikir sistemik (systemic
thinking), yaitu Systematic thinking (berpikir
sistematik), Systemic thinking (berpikir sistemik), dan Systems thinking (berpikir serba-sistem). Jika dikaji, maka semua istilah itu berakar dari kata yang sama yaitu “sistem” dan “berpikir”, namun menunjukkan konotasi yang berbeda, karena
itu memiliki tujuan yang berbeda pula.
Konsep sistem setidaknya menyangkut pengertian adanya elemen atau unsur
yang membentuk kesatuan, lalu ada atribut yang mengikat mereka, yaitu tujuan
bersama. Karena itu, setiap elemen berhubungan satu sama lain (relasi)
berdasarkan suatu aturan main yang disepakati bersama. Kesatuan antar elemen
(sistem) itu memiliki batas (boundary) yang memisahkan dan membedakannya
dari sistem lain di sekitarnya.
Berpikir sistematik (sistematic thinking), artinya memikirkan segala sesuatu berdasarkan kerangka metode tertentu,
ada urutan dan proses pengambilan keputusan. Di sini diperlukan ketaatan dan
kedisiplinan terhadap proses dan metoda yang hendak dipakai. Metoda berpikir
yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, namun semuanya dapat
dipertanggungjawabkan karena sesuai dengan proses yang diakui luas.
Berpikir sistemik (systemic thinking), maknanya mencari dan melihat segala sesuatu memiliki pola keteraturan dan
bekerja sebagai sebuah sistem. Misalnya, bila kita melihat otak, maka akan
terbayangkan sistem syaraf dalam tubuh manusia atau
hewan. Bila kita melihat jantung akan terbayangkan sistem peredaran darah di
seluruh tubuh.
Sementara itu berpikir sistemik (systemic thinking) adalah menyadari bahwa segala sesuatu berinteraksi dengan perkara lain di
sekelilingnya, meskipun secara formal-prosedural mungkin tidak terkait langsung
atau secara spasial berada di luar lingkungan tertentu. Systemic thinking
lebih menekankan pada kesadaran bahwa segala sesuatu berhubungan dalam satu
rangkaian sistem. Cara berpikir seperti berseberangan dengan berpikir fragmented-linear-cartesian.
Berpikir sistemik
(systemic thinking) mengkombinasikan antara analytical
thinking (kemampuan mengurai elemen-elemen suatu masalah) dengan synthetical
thinking (memadukan elemen-elemen tersebut menjadi kesatuan). Kita harus
memahami dan akhirnya memadukan dua kemampuan dasar ini: melakukan Analisis dan
Synthesis. Analisis adalah alat untuk memahami elemen-elemen suatu
permasalahan. Misalnya, mengapa terjadi banjir dan longsor di suatu daerah?
Maka, kita perlu meneliti: saluran air, kondisi tanah, aliran sungai, kondisi
gunung atau hutan di hulu, dan curah hujan yang terjadi.
Setelah itu, kita melakukan sintesis, yakni proses untuk memahami bagaimana
elemen-elemen itu berfungsi secara bersama-sama. Di sini kita dituntut memahami
elemen-elemen tersebut secara mendasar sebelum memadukannya. Kita bisa melihat
hubungan yang jelas antara curah hujan yang tinggi dengan kondisi hutan atau
gunung yang gundul, lalu menyebabkan aliran sungai yang sangat deras dan
akhirnya menyembur ke daerah tertentu. Kondisi makin parah, apabila saluran air
di daerah sangat buruk, sehingga tak bisa menampung aliran air yang melimpah
(banjir) dan kondisi tanah yang rawan hingga menyebabkan longsor.
Dalam interaksi antar elemen itu kita memahami bahwa segala hal merupakan
bagian dari suatu sistem, dengan kata lain segala hal berinteraksi satu sama
lain. Tak ada suatu perkara di atas muka bumi ini yang berdiri sendiri, sebab
semuanya saling terkait. Memahami proses interaksi ini sulit karena selain
banyak ragamnya, juga terkadang tidak tampak kasat mata, dan satu sama lain
saling mempengaruhi, sehingga tak jelas faktor mana yang lebih dulu muncul.
Kita perlu pola dari interaksi antar
elemen dalam suatu Sistem. Untuk memahami bekerjanya suatu sistem akan lebih
mudah pada tingkat pola, bukan pada detailnya. Jika kita ingin memahami hutan, maka kita pandang secara keseluruhan,
bukan mengamati pohonnya satu per satu. Berpikir serba-sistem adalah cara agar
kita menemukan pola secara sadar dan
proaktif.
Dalam satu persoalan yang kompleks, kita membutuhkan cara berpikir sistemik
yang berbeda dengan cara konvensional. Ada dua langkah dalam menerapkan
berpikir sistemik. Pertama, kita mendaftar dan menemukan elemen-elemen
permasalahan yang ada. Kedua, menemukan tema atau pola umumnya. Hal ini berbeda
jauh dengan mereka yang menerapkan berpikir non-sistemik, sebab mereka mungkin
menemukan dan mendaftar sejumlah elemen permasalahan, tapi kemudian memilih
elemen tertentu untuk menjadi fokus perhatian. Dalam hal itu, mereka
mengabaikan elemen lain yang dipandang tak berpengaruh, padahal mungkin saja
justru paling menentukan pola yang berkembang di dalam sistem.
Sistems thinking sedikit berbeda systemic
thinking. Berpikir sistemik lebih menekankan pada pencarian pola-hubungan (Pattern),
maka berpikir serba-sistem lebih menekankan pada pemahaman bagaimana (How)
elemen-elemen itu berhubungan. Dengan pemahaman How tersebut, maka kita
dapat menemukan elemen mana yang memiliki pengaruh vital dan solusi yang
komprehensif, sehingga tidak menimbulkan masalah baru.
Cara berpikir serba-sistem juga akan membentuk sikap yang sistemik dalam
merespon permasalahan (systemic attitude), yakni suatu pola perilaku
yang tidak menabrak aturan main (rule of game) yang sudah disepakati
dalam satu sistem tertentu. Sebuah aturan yang ditetapkan dalam sistem memang
bersifat membatasi ruang gerak (self constraining), namun pada saat yang
sama memampukan (self enabling) setiap elemen untuk bekerja sesuai
fungsinya dan berinteraksi dengan elemen lain. Jika tak ada batasan fungsi yang
jelas, maka setiap elemen itu akan saling bertabrakan dan malah berpotensi
menghancurkan sistem secara keseluruhan. Di sinilah pentingnya, berpikir dan
bertindak serba-sistem demi menjaga kesinambungan sistem sendiri. Pengubahan
aturan main dimungkinkan dan dapat diperjuangkan melalui cara-cara
legal-rasional, sehingga sistem itu tumbuh semakin sehat dan matang.
Referensi:
Efrandi. 2008. Sejarah, Konsep dan Kategori Triase.
http://puskesmas-oke.blogspot.co.id/2008/12/sejarah-konsep-dan-kategorisasi-triage.html . Diakses pada tanggal 29 Maret 2018.
Gusti. 2014. Cara Cepat Menilai Triage Pada Korban Bencana. https://gustinerz.com/cara-cepat-menilai-triage-pada-korban-bencana/ . Diakses pada tanggal 31
Maret 2018.
Hendrawati, Sri. 2012. Berpikir Sistemik. http://srihendrawati.blogspot.co.id/2012/04/berpikir-sistemik.html . Diakses
pada tanggal 31 Maret 2018.
Saanin, Syaiful. 2016. Triase dalam Musibah Masal. http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/triagemsl.html . Diakses pada tanggal 29 Maret 2018.
Surata, I Nengah. 2013. Apa itu Berpikir Kritis.
http://nengah235.blogspot.co.id/2013/03/apa-itu-berpikir-kritis.html. Diakses pada tanggal 29 Maret 2018.
No comments:
Post a Comment