KONSEP
DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
Ns.
Edy Santoso, M.Kep
A.
Pengertian
Keperawatan
gawat darurat (Emergency Nursing)
adalah pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan
injuri akut atau sakit yang mengancam kehidupan (Krisanty et al, 2009).
Keperawatan gawat darurat adalah spesialisasi
dalam bidang keperawatan profesional yang berfokus pada perawatan pasien dengan
kedaruratan medis, yaitu mereka yang membutuhkan perhatian medis segera untuk
menghindari kecacatan atau kematian jangka panjang. Perawat gawat darurat paling sering
dipekerjakan di instalasi
gawat darurat
(IGD) rumah sakit, meskipun mereka juga dapat bekerja di pusat perawatan
darurat, arena olahraga, dan pada pesawat angkut medis dan ambulans darat (WHO, 2019).
Kegiatan pelayanan keperawatan menunjukan
keahlian dalam pengkajian pasien, setting prioritas, intervensi krisis, dan
pendidikan kesehatan masyarakat (Burrel et al, 1997). Sebagai seorang
spesialis, perawat gawat darurat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan
untuk menangani respon pasien pada resusitasi, syok, trauma, dan kegawatan yang
mengancam jiwa lainnya.
B.
Tujuan
Penanggulangan Gawat Darurat
Tujuan penanggulangan gawat darurat
adalah:
1.
Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat
darurat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat.
2.
Merujuk pasien gawat darurat melalui system
rujukan untuk memperoleh penanganan yang lebih memadai.
3.
Penanggulangan korban bencana
Untuk dapat mencegah
kematian, petugas harus tahu penyebab kematian yaitu:
1.
Mati dalam waktu singkat (4 – 6 menit)
a.
Kegagalan system otak
b.
Kegagalan system pernafasan
c.
Kegagalan system kardiovaskuler
2.
Mati dalam waktu lebih lama (perlahan-lahan)
a.
Kegagalan system hati
b.
Kegagalan system ginjal (perkemihan)
c.
Kegagalan system pancreas (endokrin)
C.
Skema
Penanggulangan Bencana/Kecelakaan
![]() |
Melihat skema di atas maka nasib korban
tergantung pada:
1.
Kecepatan ditemukannya korban
2.
Kecepatan minta tolong
3.
Kecepatan dan kualitas pertolongan
D.
System
Pengelolaan/Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)
SPGDT adalah suatu metode yang digunakan
untuk penanganan korban yang mengalami kegawatan dengan melibatkan semua unsur
yang ada.
1. Fase Pra Rumah Sakit
Pada fase ini
keberhasilan penanggulangan gawat darurat tergantung pada beberapa komponen
a.
Komunikasi
1)
Dalam komunikasi hubungan yang sangat
diperlukan adalah:
- Pusat
komunikasi ambulan gawat darurat (contoh: 118, Pro-emergency, dll)
- Pusat
komunikasi ke RS
- Pusat
komunikasi polisi (contoh: 110)
- Pusat
komunikasi pemadam kebakaran (contoh: 113)
2)
Untuk komunikasi fasilitas pager, radio,
telepon, telepon genggam.
3)
Tugas pusat komunikasi adalah:
- Menerima
permintaan tolong
- Mengirim
ambulans terdekat
- Mengatur
dan memonitor rujukan penderita gawat darurat
- Memonitor
kesiapan rumah sakit yaitu terutama instalasi gawat darurat dan ICU.
b.
Pendidikan
1)
Pada orang awam
Pada
orang awam adalah orang pertama yang menemukan korban atau pasien yang mendapat
musibah atau trauma. Mereka adalah anggota Pramuka, PMR, guru, ibu rumah
tangga, pengemudi, Hansip, dan petugas hotel atau restoran. Kemampuan yang
harus dimiliki oleh orang awam adalah:
- Mengetahui
cara minta tolong misalnya menghubungi melalui telpon ke 118
- Mengetahui
cara resusitasi jantung paru
- Mengetahui
cara menghentikan perdarahan
- Mengetahui
cara memasang pembalut atau bidai
- Mengetahui
cara transportasi yang baik.
2)
Pada orang awam khusus
Yang
termasuk di sini adalah orang awam yang telah mendapatkan pengethauan cara-cara
penanggulangan kasus gawat darurat sebelum korban dibawa ke RS atau ambulans
datang. Mereka adalah Polisi, Hansip, DLLAJR, Search and Rescue (SAR). Kemampuan yang harus dimiliki orang awam
khusus adalah paling sedikit seperti kemampuan orang awam dan ditambah dengan:
- Mengetahui
tanda-tanda persalinan
- Mengetahui
penyakit pernafasan
- Mengetahui
penyakit jantung
- Mengetahui
penyakit persarafan
- Mengetahui
penyakit anak, dan lain-lain.
3)
Pada perawat
Perawat
harus mampu menanggulangi penderita gawat darurat dengan gangguan:
a) System
pernafasan
- Mengatasi
obstruksi jalan nafas
- Membuka
jalan nafas
- Memberi
nafas buatan
- Melakukan
resusitasi jantung paru (RJP) dengan didahului penilaian ABC.
b) System
sirkulasi
- Mengenal
aritmia dan infark jantung
- Pertolongan
pertama pada henti jantung
- Melakukan
EKG
- Mengenal
syok dan memberi pertolongan pertama.
c) System
vaskuler
- Menghentikan
perdarahan
- Memasang
infus atau transfusi
- Merawat
infus
d) System
saraf
- Mengenal
koma dan memberikan pertolongan pertama
- Memberikan
pertolongan pertama pada trauma kepala
e) System
pencernaan
- Pertolongan
pertama pada trauma abdomen dan pengenalan tanda perdarahan intraabdomen.
- Persiapan
operasi segera (cito)
- Kumbah
lambung pada pasien keracunan.
f) System
perkemihan
- Pettolongan
pertama pada payah ginjal akut
- Pemasangan
kateter
g) System
integument atau toksikologi
- Pertolongan
pertama pada luka bakar
- Pertolongan
pertama pada gigitan binatang
h) System
endokrin
- Pertolongan
pertama pasien hipo/hiper glikemi
- Pertolongan
pertama pasien krisis tiroid
i) System
musculoskeletal
- Mengenal
patah tulang dan dislokasi
- Memasang
bidai
- Mentransportasikan
pasien ke rumah sakit
j) System
penginderaan
- Pertolongan
pertama pasien trauma mata atau telinga
- Melakukan
irigasi mata dan telinga
k) Pada
anak
- Pertolongan
pertama anak dengan kejang
- Pertolongan
pertama anak dengan astma
- Pertolongan
pertama anak dengan diare atau konstipasi.
c.
Transportasi
1)
Syarat transportasi penderita
a) Penderita
gawat darurat siap ditransportasi bila:
- Gangguan
pernafasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi
- Perdarahan
harus dihentikan
- Luka
harus ditutup
- Patah
tulang apakah memerlukan fiksasi
b) Selama
transportasi harus dimonitor:
- Kesadaran
- Pernafasan
- Tekanan
darah dan denyut nadi
- Daerah
perlukaan
c) Syarat
kendaraan:
- Penderita
dapat terlentang
- Cukup
luas untuk lebih dari dua pasien dan petugas dapat bergerak
- Cukup
tinggi sehingga petugas dapat berdiri dan infus lancer
- Dapat
melakukan komunikasi ke sentral komunikasi dan rumah sakit
- Identitas
yang jelas sehingga mudah dibedakan dari ambulans lain.
d) Syarat
alat yang harus adayaitu resusitasi, oksigen, alat hisap, obat-obatan dan
infus, balut dan bidai, tandu, EKG transmitter, incubator (untuk bayi), dan
alat-alat persalinan.
e) Syarat
personal:
- Dua
orang perawat yang dapat mengemudi
- Telah
mendapat pendidikan tambahan gawat darurat
- Sebaiknya
diasramakan agar mudah dihubungi.
2)
Cara transportasi
- Tujuan
memindahkan penderita dengan cepat tetapi selamat
- Kendaraan
penderita gawat daruratharus berjalan berhati-hati dan mentaati peraturan
lalulintas
2. Fase Rumah Sakit
a.
Puskesmas
Ada
puskesmas yang buka selama 24 jam dengan kemampuan:
1)
Resusitasi
2)
Menanggulangi fase gawat darurat baik medis
maupun pembedahan minor
3)
Dilengkapi dengan laboratorium untuk
menunjang diagnostic seperti pemeriksaan Hb, lekosit, gula darah
4)
Personal yang dibutuhkan satu dokter umum dan
dua sampai tiga perawat dalam satu sift.
b.
Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau Unit Gawat
Darurat (UGD)
Bergasil
atau gagalnya suatu IGD atau UGD tergantung pada:
1)
Keadaan penderita waktu tiba di IGD
- Tergantung
pada mutu penanggulangan pra rumah sakit
- IGD
harus aktif meningkatkan mutu penanggulangan pra rumah sakit.
2)
Keadaan gedung IGD sebaiknya dirancang sedemikian
rupa sehingga:
- Masyarakat
mudah mencapainya
- Kegiatan
mudah dikontrol
- Jarak
jalan kaki di dalam ruangan tidak jauh
- Tidak
ada infeksi silang
- Dapat
menanggulangi keadaan bencana
3)
Kualitas dan kuantitas alat-alat serta
obat-obatan.
a) Alat-alat
atau obat-obatan yang diperlukan untuk resusitasi
- Suction
manual atau otomatis
- Oksigen
- Respirator
manual atau otomatis
- Laringoskop
- Pipa
endotracheal
- Pipa
nasogastrik
- Gudel
- Spuit
dan jarum
- Cuff
set
- EKG-Monitor
jantung (portable) dan defibrillator
- Infus
dan transfuse set serta cairan dan darah
- Cairan
dextrose 40%
- Morphin,
pethidin, adrenalin
- Tandu
dapat posisi trendelenburg atau anti trendelenburg, terdapat gantungan infus
dan pengikat
- Cricothyrotomy
dan tracheostomy set
- Gunting
- Jarum
intrakardiak, dll
b) Alat-alat
atau obat-obatan untuk menstabilisasi penderita.
- WSD
set atau jarum pungsi
- Bidai
segala ukuran
- Sonde
lambung
- Folley
cateter segala ukuran
- Venaseksi
set
- X-ray
- Perban
untuk luka bakar
- Perikardiosintesis
set, dll
c) Alat-alat
tambahan untuk diagnose dan terapi
- Alat-alat
periksa pengobatan mata
- Slit
lamp
- THT
set
- Traction
kit
- Gips
- Obstetric
ginekologi set
- Laboratorium
mini
- Bone
set
- Pembedahan
minor set
- Thoracotomy
set
- Benang-benang
atau jarum segala ukuran
d) Kemampuan
dan keterampilanpetugasnya
- Golongan
pertama, yang tidak langsung menangani penderita yaitu cleaning service, keamanan, penerangan, kasir.
- Golongan
kedua, yang langsung menanganipenderita, yaitu perawat, dokter dan koasisten;
perawat tulang punggung IGD; perawat yang harus memahami perawatan gawat
darurat untuk melakukan resusitasi kardiopulmoner dan life support; dan bagi perawat yang memilih kerja di IGD maka perlu pendidikan lanjutan
misalnya D III, S1, S2 agar dasar ilmiahnya kuat.
E.
Prinsip-prinsip
Penanggulangan Korban Gawat Darurat
Prinsip utama adalah memberikan
pertolongan pertama pada korban. Pertolongan pertama adalah pertolongan yang
diberikan saat kejadian atau bencana terjadidi tempat kejadian.
Tujuan
pertolongan pertama
1.
Menyelamatkan kehidupan
2.
Mencegah kesakitan makin parah
3.
Meningkatkan pemulihan
Tindakan
prioritas penolong
1.
Ambil alih situasi
2.
Minta bantuan pada orang sekitar
3.
Kaji bahaya lingkungan
4.
Yakinkan area aman bagi penolong dan korban
5.
Kaji korban secara cepat untuk masalah yang
mengancam kehidupan
6.
Berikan pertolongan pertama untuk kondisi yang
mengancam kehidupan
7.
Kirim seseorang untuk memanggil polisi atau
ambulans.
Mengontrol
area
1.
Kecelakaan kendaraan bermotor, yang harus
dilakukan: pelarangan merokok, cegah kerumunan, cegah kerumunan, minta
pertolongan orang lain.
2.
Kecelakaan listrik, yang harus dilakukan:
putuskan hubungan listrik dengan kayu atau lainnya, jaga jarak dengan korban
berada di area yang aman.
3.
Gas, asap dan gas beracun maka pindahkan
pasien.
4.
Kebakaran, yang harus dilakukan adalah
menjauhkan pasien dari api.
Sikap
penolong
1.
Jangan panic
2.
Bersikap tenang
3.
Cekatan dalam melakukan tindakan
4.
Jangan terburu-buru memindahkan korban dari
tempatnya sebelum dipastikan sarana angkutan yang memadai
5.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan
terhadap korban atau pasien adalah:
a. Pernafasan
dan denyut jantung
1)
Bila nafas berhenti maka segera lakukan
pernafasan buatan
2)
Bila jantung berhenti berdenyut maka lakukan
kompresi jantung luar (KJL)
b. Perdarahan
Bila
terjadi perdarahan maka lakukan usaha-usaha menghentikan perdarahan. Terutama
perdarahan dari pembuluh darah besar.
c.
Syok
Bila
terjadi syok maka perhatikan tanda-tandanya serta lakukan penanggulangannya.
d. Cegah
aspirasi terhadap muntahan dengan mengatur posisi pasien miring pada salah satu
posisi tubuh atau ditelungkupkan
e. Bila
terjadi fraktur, maka lakukan pembidaian.
Pengelompokan pasien gawat darurat
Kategori
|
Skala
Prioritas
|
Kasus
|
I
|
Prioritas
utama pasien
|
·
Tidak sadar
·
Sumbatan jalan nafas atau henti nafas
·
Henti jantung
·
Perdarahan hebat
·
Syok
·
Reaksi insulin
·
Mata terkena bahan kimia
|
II
|
Prioritas
kedua pasien
|
·
Luka bakar
·
Fraktur mayor
·
Injury tulang belakang
|
III
|
Prioritas
ketiga pasien
|
·
Fraktur minor
·
Perdarahan minor
·
Keracunan obat-obatan
·
Percobaan bunuh diri
·
Gigitan binatan
|
IV
|
Prioritas
keempat pasien
|
·
|
F.
Prinsip-prinsip
Keperawatan Gawat Darurat
Triage
diambil
dari bahasa Perancis “trier” artinya
mengelompokkan atau memilih (Gilboy, 2003). Konsep triage unit gawat darurat adalah berdasarkan pengelompokkan atau
pengklasifikasian klien ke dalam tingkatan prioritas tergantung pada keparahan
penyakit atau injuri. Perawat triage
adalah “penjaga pintu gerbang” pada system pelayanan gawat darurat.
Gawat
Darurat (Emergent triage)
Klien yang tiba-tiba berada dalam
keadaanatau akan menjadi gawat yang terancam nyawanya atau anggota badannya
(akan menjadi cacat) bila tidak mendapatkan pertolongan secepatnya.
Kategori yang termasuk di dalamnya yaitu
kondisi yang timbul berhadapan dengan keadaan yang dapat segera mengancam
kehidupan atau berisiko kecacatan. Misalnya klien yang nyeri dada substernal,
nafas pendek, dan diaphoresis ditriage segera ke ruang treatment dan pasien injuri
trauma kritis atau seseorang dengan perdarahan aktif.
Gawat
Tidak Darurat (Urgent triage)
Klien berada dalam keadaan gawat tetapi
memerlukan tyindakan darurat, misalnya kanker stadium lanjut.
Kategori yang mengindikasikan bahwa
klien harus dilakukan tindakan segera, tetapi keadaan yang mengancam kehidupan
tidak muncul saat itu. Misalnya klien dengan serangan baru pneumonia (sepanjang
gagal nafas tidak muncul segera), nyeri abdomen, kolik ginjal, laserasi
kompleks tanpa adanya perdarahan mayor, dislokasi, riwayat kejang sebelum tiba
dan suhu lebih dari 370C.
Darurat
Tidak Gawat (Nonurgent triage)
Klien akibat musibah yang datang
tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya, misalnya luka
sayat dangkal. Secara umum dapat bertoleransi menunggu beberapa jam untuk layan
kesehatan tanpa suatu risiko signifikan terhadap kemunduran klinis, misalnya
simple fraktur, simple laceration, atau injuri jarungan lunak, gejala demam
atau viral, dan skin rashes.
G.
Primary Survey, Secondary Survey, dan Intervensi Resusitasi
1. Primary
Survey dan
Intervensi Resusitasi
Primary
survey mengatur pendekatan ke klien sehingga ancaman kehidupan
segera dapat secara cepat diidentifikasi dan tertanggulangi dengan efektif. Primary survey berdasarkan standar “ABC”
mnemonic dengan “D”& “E”
ditambahkan untuk klien trauma: Airway/spinal
servikal (A: jalan nafas), breathing (B:
pernafasan), circulation (C:
sirkulasi), disability (D:
ketidakmampuan), dan exposure (E:
paparan).
A:
Airway (jalan
nafas)/spinal servikal
Prioritas intervensi tertinggi dalam primary survey adalah mempertahankan
kepatenan jalan nafas. Dalam hitungan menit tanpa adekuatnya suplai oksigen
dapat menyebabkan trauma serebral yang akan berkembang menjadi kematian otak (anoxic brain death). Airway harus bersih dari berbagai secret
atau debris dengan kateter suction atau
secara manual jika diperlukan. Spinal servikal harus diproteksi pada klien
trauma dengan kemungkinan trauma spinal secara manual alignment leher pada
posisi netral posisi in-line dan
manggunakan maneuver jaw thrust
ketika mempertahankan jalan nafas.
Secara umum masker non-rebreathing adalah yang paling baik untuk klien bernafas
spontan. Ventilasi bag-valve-mask (BMV)
dengan alat bantu nafas yang tepat dan sumber oksigen 100% diindikasikan untuk
individu yang memerlukan bantuan ventilasi selama resusitasi. Klien dengan
gangguan kesadaran, diindikasikan dengan GCS ≤8, membutuhkan airway definitive seperti Endotracheal tube (ETT).
B:
Breathing (pernafasan)
Setelah jalan nafas aman, breathing menjadi prioritas berikutnya
dalam primary survey. Pengkajian ini
untuk mengetahui apakah usaha ventilasi efektif atau tidak hanya pada saat
klien bernafas. Fokusnya adalah pada auskultasi bunyi nafas dan evaluasi
ekspansi dada, usaha respirasi, dan adanya bukti trauma dinding dada atau
abnormalitas fisik. Pada klien apnea dan kurangnya usaha ventilasi untuk
mendukung sampai intubasi endotracheal dilakukan dan ventilasi mekanik
digunakan. Jika resusitasi jantung paru (RJP) diperlukan, ventilasi mekanik
harus dihentikan dank lien secara manual diventilasi dengan alat BVM untuk
ventilasi lanjutan yang baik dengan kompresi dada, sebaiknya untuk mengkaji
komplians paru melalui pengukuran derajat kesulitan ventilasi klien dengan BVM.
Intervensi penyelamatan kehidupan (life-saving) lainnya pada fase ini
adalah dekompresi dada. Indikasi dekompresi dada yaitu bukti klinis adanya
tension pneumothoraks, yang dapat menghadapi keadaan krisis breathing dan sirkulasi. Dekompresi dada
dilakukan melalui dua cara yaitu torakostomi jarum (needle thoracostomy) dan torakostomi tube (tube thoracostomy). Needle
thoracostomy adalah suatu maneuver temporer yang cepat digunakan untuk
mengeluarkan udara yang terjebak dengan insersi chest tube. Jarum ukuran besar (kateter 14 atau 16, dengan panjang
3 – 6 cm) diinsersi ke dalam ruang intercostal kedua pada garis midklavikula.
Setelah needle thoracostomy, suatu chest tube diinsersi (tube thoracostomy) pada ruang
intercostal kelima, arah anterior garis midaksila. Chest tube ditempatkan pada posisi anatomis ini untuk mengeluarkan
udara dan drainase cairan.

Gambar: insersi chest
tube
C:
Circulation
Intervensi ditargetkan untuk memperbaiki
sirkulasi yang efektif melalui resusitasi kardiopulmoner, control perdarahan,
akses intravena dengan penatalaksanaan cairan dan darah jika diperlukan, dan
obat-obatan. Perdarahan eksternal sangat baik dikontrol dengan tekanan langsung
yang lembut pada sisi perdarahan dengan balutan yang kering dan tebal.
Perdarahan internal lebih menjadi ancaman tersembunyi yang harus dicurigai pada
klien trauma atau pada mereka yang dalam status syok.
Dalam suatu kondisi resusitasi, tekanan
darah dapat secara cepat diperkirakan sebelum tekanan daru cuff tensimeter
didapatkan dengan palpasi terhadap adanya atau absennya nadi perifer dan
sentral:
-
Adanya nadi radial: TD sedikitnya 80 mmHg
sistolik
-
Adanya nadi femoral: TD sedikitnya 70 mmHg
sistolik
-
Adanya nadi karotis: TD sedikitnya 60 mmHg
sistolik
Akses intravena
secara baik dicapai melalui insersi jalur intravena jarum besar pada
antekubital fossa (lekukan siku). Akses tambahan dapat dicapai melalui vena
sentral di sisi femoralis, subklavia, atau jugularis menggunakan jarum besar (≥8,5)
kateter vena sentral. Cairan resusitasi pilihan adalah Ringer laktat dan salin
normal 0,9%. Cairan dan produk darah harus dihangatkan sebelum pemberian untuk
mencegah hipotermia.
D:
Disability
Pengkajian disability memberikan pengkajian dasar cepat status neurologis.
Metode mudah untuk mengevaluasi tingkat kesadaran adalah dengan “AVPU” mnemonic:
A : Alert (waspada)
V : Responsive to voice (berespon terhada
suara)
P :
Responsive to pain (berespon terhadap nyeri)
U : Unresponseve (tidak ada respon)
Pengkajian lain tentang tingkat
kesadaran yang mengukur secara obyektif dan diterima luas adalah Glasgow Coma Scale (GCS), yang menilai
buka mata, respon verbal, dan respon motoric.skor terendah adalah 3, yang
mengindikasikan tidak responsifnya klien secara total; GCS normal adalah 15.
Abnormalitas metabolic, hipoksia, trauma neurologis, dan intoksikasi dapat
mengganggu tingkat kesadaran.
E:
Exposure (paparan)
Komponen akhir primary survey adalah exposure.
Seluruh pakaian harus dibuka untuk memudahkan pengkajian menyeluruh. Pada
situasi resusitasi, pakaian harus digunting untuk mencapai akses cepat ke
bagian tubuh. Jika penyediaan tanda bukti adalah suatu isu, barang-barang
tersebut harus ditangani sesuai aturan yang berlaku. Tanda bukti termasuk
bagian-bagian pakaian, tempat-tempat tusukan, senjata, obat-obatan, dan peluru.
Perawat gawat darurat seringkali dipanggil untuk memberikan testimonial di
pengadilan sehubungan dengan bukti-bukti yang mereka kumpulkan dan perawatan
klien mereka di IGD. Contoh dari tipe kasus dimana pengumpulan bukti adalah
sangat vital termasuk perkosaan, child
abuse, kekerasan domestic, pembunuhan, bunuh diri, overdosis obat, dan
penyiksaan.
Sekali pakaian dibuka, hipotermia dapat
berisiko terjadi. Secara umum, hipotermia menjadi komplikasi manajemen klien
trauma dengan menyebabkan terjadinya vasokntriksi, kesulitan akses vena dan
pengkajian arteri, gangguan oksigenasi dan ventilasi, koagulapati, peningkatan
perdarahan, dan metabolism di hati melambat.
Tabel: Pengkajian Primary Survey
Pengkajian: primary survey pada pasien trauma atau non trauma
|
Airway
1. Pastikan kepatenan jalan nafas dan
kebersihannya segera. Partikel-partikel benda asing seperti darah, muntahan,
permen karet, gigi, gigi palsu, atau tulang. Obstruksi juga dapat disebabkan
oleh lidahatau edema karena trauma jaringan.
2. Jika pasien tidak sadar, selalu
dicurigai adanya fraktur spinal servikal dan jangan melakukan hiperekstensi
leher sampai spinal dipastikan tidak ada kerusakan
3. Gunakan chin lift atau jaw thrust secara
manual untuk membuka jalan nafas.
Breathing
4. Kaji trauma, kedalaman, dan
keteraturan pernafasan dan observasi untuk ekspansi bilateral dada
5. Auskultasi bunyi nafas dan catat
adanya krekels, wheezing, atau tidak adanya bunyi nafas
6. Jika pernafasan tidak adekuat atau tidak
ada dukung pernafasanpasien dengan suatu alat oksigenisasi yang sesuai.
Circulation
7. Tentukan status sirkulasi dengan
mengkaji nadi, mencatat irama dan ritmenya dan mengkaji warna kulit
8. Jika nadi karotis tidak teraba,
lakukan kompresi dada tertutup
9. Kaji tekanan darah
10. Jika pasien hipotensi, segera pasang
jalur intravena dengan jarum besar (16 sampai 18). Mulai penggantian volume
per protocol. Cairan kristaloid seimbang (normal salin 0,9% atau ringer
laktat) biasanya digunakan.
11. Kaji adanya bukti perdarahan dan
control perdarahan dengan penekanan langsung.
|
2. Secondary
Survey, dan
Intervensi Resusitasi
Setelah tim
resusitasi unit gawat darurat telah melakukan penyelamatan jiwa segera,
aktivitas lain dimana perawat gawat darurat dapat mengantisipasi termasuk insersi
gastric tube untuk dekompresi saluran
pencernaan untuk mencegah muntah dan aspirasi, insersi kateter urine untuk
memudahkan pengukuran pengeluaran urine, dan persiapan studi diagnostic seperti
ultrasound, EKG, studi radiologi, dan analisa laboratorium darah. Tim
resusitasi juga melakukan suatu pengkajian head-to-toe
yang lebih komprehensif, dikenal dengan secondary
survey, untuk mengidentifikasi trauma lain atau isu medis yang memerlukan
penatalaksanaan atau dapat mempengaruhi perawatan klien mungkin dipindahkan
segera ke kamar operasi atau ruang kateterisasi jantung secara langsung dari
unit gawat darurat tergantung dari masalah medis atau trauma
Tabel:
Pengkajian Head-to-Toe
Pengkajian:
Pemeriksaan Fisik Head-to-Toe pada
Pasien Trauma atau Penyakit Serius
|
Kepala/Tengkorak
1. Inspeksi dan palpasi keseluruhan
kulit kepala; hal ini penting karena kulit kepala biasanya tidak terlihat
karena tertutup rambut
2. Catat adanya perdarahan, laserasi,
memar atau hematom
3. Catat adanya darah atau drainase
dari telinga, inspeksi adanya memar di belakang telinga.
4. Kaji respons dan orientasi pasien
akan waktu, tempat, dan diri. Observasi bagaimana pasien merespons pertanyaan
dan berinteraksi dengan lingkungan
5. Catat adanya tremor atau kejang.
Wajah
6. Inspeksi dan palpasi tulang wajah
7. Kaji ukuran pupil dan reaksinya
terhadap cahaya. Catat apakah lensa kontak terpasang; jika ya, lepaskan.
8. Catat adanya darah atau drainase
dari telinga, mata, hidung, atau mulut
9. Observasi bibir, daun telinga, dan
ujung kuku terhadp sianosis
10. Cek adanya gigi yang tanggal
11. Cek adanya gigi palsu. Jika ada, dan
pasien mengalami penurunan kesadaran atau gigipalsu mempengaruhi jalan nafas,
lepaskan; lalu beri nama dan simpan di tempat yang aman (lebih baik berikan
pada keluarganya).
12. Inspeksi lidah dan mukosa oral
terhadap trauma.
Leher
13. Observasi adanya bengkak atau
deformitas di leher
14. Cek spinal servikal untuk deformitas
dan nyeri palpasi.
Perhatian: jangan menggerakkan leher atau kepala pasien
dengan kemungkinan trauma leher sampai fraktur servikal sudah dipastikan!
Immobilisasi leher.
15. Observasi adanya deviasi trachea
16. Observasi adanya distensi vena
jugularis.
Dada
17. Inspeksi dinding dada untuk kualitas dan kedalaman pernafasan, dan untuk
kesimetrisan pergerakan. Catat adanya segmen flail chest.
18. Cek adanya fraktur iga dengan
melakukan penekanan pada tulang iga pada posisi lateral, lalu anterior, dan
posterior, maneuver ini menyebabkan nyeri pada pasien dengan fraktur iga.
19. Catat keluhan pasien akan nyeri,
dyspnea, atau sensai dada terasa berat
20. Catat memar, perdarahan, luka, atau
emfisema subkunaeus.
21. Auskultasi paru untuk kualitas dan
kesimetrisan bunyi nafas.
Abdomen
22. Catat adanya distensi, perdarahan,
memar, atau abrasi, khususnya di sekitar organ vital seperti limpa atau hati.
23. Kaji kekakuan dan tenderness. Selalu auskultasi abdomen
untuk bising usus sebelum mempalpasi untuk mengkaji secara benar peristaltic.
Genetalia
dan Pelvis
24. Observasi untuk abrasi, perdarahan,
hematoma, edema, atau discharge.
25. Berikan tekanan lembut di setiap iliac crest dengan gerakan getaran kecil;
pasien fraktur pelvis akan kehilangan rasa. (manuver ini juga akan
menyebabkan nyeri pada pasien).
26. Observasi adanya distensi kandung
kemih.
Tulang
belakang
27. Mulai tempatkan satu tangan di bawah
leher pasien. Dengan lembut palpasi vertebra. Rasakan adanya deformitas, dan
catat lokasinya jika terdapat respon nyeri dari pasien.
28. Perhatian: jangan pernah membalik
pasien untuk memeriksa tulang belakang sampai trauma spinal sudah dipastikan.
Jika anda harus membalik pasien (misalnya luka terbuka) gunakan teknik log-roll.
29. Catat adanya keluhan nyeri dari
pasien ketika mempalpasi sudut costovertebral melewati ginjal.
Ekstremitas
30. Cek adanya perdarahan, edema,
pallor, nyeri, atau asimetris tulang atau sendi dimulai pada segmen proksimal
pada setiap ekstremitas dan palpasi pada bagian distal.
31. Cek pergerakan, range of motion (ROM), dan sensasi pada semua ekstremitas
32. Palpasi nadi distal dan cek capillary refill pada ujung kuku. Kaji
warna kulit pada ekstremitas
33. Cek reflex seperti plantar, biseps,
dan patella.
|
H.
Penerapan
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
Kegiatan praktik keperawatan yang
diberikan kepada klien yang mengalami kondisi membahayakan kehidupan baik
actual maupun risiko, secara tiba-tiba dan tidak dapat diperkirakan.
1. Dasar-dasar Keperawatan di Ruang Gawat
Darurat
Berikut ini adalah
alasan perlunya penerapan asuhan keperawatan gawat darurat, yaitu:
a.
Pasien atau keluarga
Pasien
gawat darurat umumnya dalam kondisi akut atau berat, sehingga perawatan harus
dapat memahami reaksi yang ditimbulkan, antara lain:
1)
Ketakutan
Banyak
hal yang dapat menimbulkan rasa takut pada pasien dan keluarga, misalnya takut
akan kematian, pengobatan yang diberikan, akan penyakitnya, lingkungan gawat
darurat yang sibuk, banyak pasien gawat, dll. Untuk mengatasi masalah tersebut
perawat harus dapat bekerja lebih empati, meiliki keterampilan yang cukup dan
harus dapat meningkatkan rasa nyaman dan rasa aman pada pasien dan keluarga.
2)
Tidak sabar atau marah
Datang
ke IGD, pasien dan keluarga menganggap kondisi harus segera ditolong dan
membutuhkan perhatian yang penuh. Jika hal ini tidak terpenuhi, pasien atau
keluarga akan tidak sabar atau kurang terkontrol emosinya sehingga menyebabkan
kemarahan.
Perawat
harus menyadari kemungkinan kondisi ini, dengan antisipasi sebagai berikut:
- Memberi
penjelasan tentang kondisi pasien
- Penanganan
yang dilakukan
- Pemeriksaan
pendukung seperti CT-scan, laboratorium, radiologi, dan lain-lain, yang harus
menunggu hasil pemeriksaan.
- Penjelasan
adanya pasien lain yang lebih memerlukan pertolongan segera.
- Namun
langkah awal pasien harus ditangani dengan penuh perhatian dan kesigapan.
3)
Kesedihan
Kesedihan
disebabkan oleh kehilangan anggota tubuh, kehilangan orang yang dicintai,
adanya pembatasan pengunjung, rasa tidak diperhatikan keluarga. Dalam hal ini
tim kesehatan harus berempati terhadap kondisi tersebut dan izinkan satu orang
menunggu pasien.
b.
Perawat
Bekerja
di ruang gawat darurat membutuhkan penanganan cepat dan tepat, kerja yang terus
menerus, jumlah pasien yang relative banyak, mobilitas tinggi, alat-alat modern
dan kondiri keluarga yang dapat menimbulkan:
1)
Stress yang tinggi akibatnya kerja perawat
dan tim kesehatan lainnya tidak lancer
2)
Rasa empati terhadap pasien menurun, sehingga
asuhan keperawatan yang diberikan sebagian ditujukan kepada masalah fisik.
2. Prinsip Proses Keperawatan Pasien Gawat
Darurat
a.
Life
support, perlu diprioritaskan kondisi yang memerlukan tindakan
segera. Terkadang tindakan dilakukan bersamaan dengan pengkajian. Penulisan
dapat dilakukan setelah keselamatan terjamin atau sudah teratasi.
b.
Ringkas dan mudah dimengerti, oleh karenanya
harus dibuat singkat dan jelas.
c.
Mayor kondisi yang holistic. Diprioritaskan
pada kondisi-kondisi utama yang mengganggu kehidupan atau keluhan dasar pasien
dan keluarga dari fisik-psiko-sosial.
d.
Actual atau benar. Keakuratan dalam
pengkajian dan perumusan diagnose keperawatan dan tindakan keperawatan
merupakan hal utama yang harus diingat.
3. Pengkajian
Pengkajian berdasarkan
system triage. Setelah primary survey dan
intervensi krisis selesai, perawat harus mengkaji riwayat pasien. Riwayat diberikan
oleh pasien adalah factor kritikal dalam menentukan perawatan yang sesuai. Jika
pasien tidak dapat memberikan informasi, keluarga atau teman dapat menjadi
sumber data sekunder. AMPLE mnemonic dapat
digunakan sebagai pengingat informasi komponen penting yang harus didata:
A : Allergies
(alergi)
M : Medications
(pengobatan: termasuk frekuensi, dosis, dan rute)
P : Past medical history (riwayat
medis lalu seperti diabetes, masalah kardiovaskuler atau pernafasan)
L : Last oral intake (obat
terakhir yang dikonsumsi)
E : Events (kejadian-kejasian)-keluhan
utama, deskripsi gejala, mekanisme trauma.
Setelah primary survey dan riwayat pasien lengkap, survey umum, tanda-tanda
vital, dan pengkajian fisik head to toe.
4. Analisa dan Perencanaan
Analisa yang tepat
akan menunjang perumusan diagnose keperawatan yang tepat serta intervensi
sesuai protocol triage.
Di bawah ini beberapa
masalah keperawatan yang sering ditemukan pada pasien gawat darurat berdasarkan
NANDA (2015)
-
Kekurangan volume cairan
-
Risiko ketidakseimbangan elektrolit
-
Retensi urine
-
Diare
-
Pola nafas takefektif
-
Bersihan jalan nafas takefektif
-
Risiko aspirasi
-
Risiko jatuh
-
Risiko injuri
-
Risiko perdarahan
-
Risiko shock
-
Kerusakan integritas kulit
-
Penurunan cardiac output
-
Risiko penurunan cardiac output
-
Perfusi jaringan perifer takefektif
-
Koping tidak efektif
-
Berduka
-
Penurunan kapasitas adapatif intracranial
-
Menyakiti diri sendiri
-
Percobaan bunuh diri
-
Respon alergi latex
-
Hipertermi
-
Hipotermi
-
Nausea
-
Nyeri akut
-
Nyeri kronis
-
ketidaknyamanan
5. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan
di ruang gawat darurat meliputi evaluasi tentang pelaksanaan triage, keadaan
dan status kesehatan pasien, dokumentasi dilakukan setiap tindakan selesai atau
selama perawatan di IGD, dan evaluasi dengan cara subyektif, obyektif, analisa,
planning (SOAP).
I.
Keperawatan
Bencana
Keperawatan bencana (disaster nursing) merupakan pelayanan
keperawatan komprehensif yang diberikan berupa tindakan darurat dan luar biasa
pada keadaan bencana untuk menolong dan menyelamatkan korban baik manusia
maupun lingkungannya.
1. Disaster Plan untuk Rumah Sakit
Rencana penanggulangan
bencana bagi tiap-tiap rumah sakit tidak sama karena tiap-tiap rumah sakit
mempunyai sifat-sifat tersendiri. Juga harus difikirkan kemungkinan rumah
sakitnya sendiri terkena bencana seperti api, gempa bumi, banjir dan lain-lain
sehingga rumah sakit tersebut rusak.
Hal-hal yang harus
difikirkan adalah:
a.
Fasilitas gedung
Hal ini
juga harus dipikirkan kalau membangun rumah sakit baru. Kalau rumah sakitnya
sudah ada, maka harus ditentukan:
1)
System tempat parkir, supaya setiap waktu
kendaraan atau ambulans yang membawa korban dapat dengan leluasa keluar masuk
2)
Daerah triage yaitu tempat atau ruangan
dimana dilakukan seleksi dari korban-korban tersebut. Sebaiknya dekat dengan
tempat masuknya ambulan, dan terdapat pintu masuk dan keluar.
3)
Ruangan untuk pembedahan minor dimana ruangan
ini harus cukup luas karena terbanyak adalah kasus-kasus bedah.
4)
Ruangan untuk pembedahan mayor dimana
biasanya kamar operasi dan tim di dalamnya pada setiap rumah sakit mampu
menanggulangi korban-korban tersebut sehingga tidak memerlukan banyak tambahan
ruangan maupun personil.
5)
Ruangan untuk pra-bedah atau observasi dan
pasca-bedah
6)
Ruangan untuk para keluarga wartawan menunggu
dan mendapatkan keterangan dan Humas rumah sakit.
7)
Ruangan untuk menampung korban-korban yang
meninggal dimana para keluarga dapat mengidentifikasi dan mengurus jenazahnya.
b.
Penyimpanan obat-obat dan instrument serta
kemana harus mencari kalau persediaan tersebut habis.
c.
Komunikasi, bukan saja penting antara rumah
sakit dengan pihak luar tetapi juga intern di dalam rumah sakit harus lancer.
2. Triage
Suatu system seleksi
korban yang menjamin supaya tidak ada korban yang tidak mendapatkan perawatan
medis. Untuk bencana masal dikenal istilah
“Triage Officer (petugas triage)” yaitu orang yang melakukan seleksi
triage, biasanya memiliki pengalamankeahlian bedah sehingga mampu melakukan diagnose
dan penanggulangannya dengan cepat.
Tabel:
Triage dalam Bencana Massal
Golongan
|
Warna
label
|
Kondisi
|
I
II
III
IV
V
|
Hijau
Kuning
Merah
Putih
Hitam
|
Korban
tidak luka atau gangguan jiwa sehingga tidak memerlukan tindakan bedah.
Korban
dengan luka-luka ringan sehingga hanya memerlukan tindakan bedah minor.
Golongan
ini dibagio dalam golongan operatif dan non-operatif seperti trauma kepala.
Korban
dengan keadaan parah atau syok.
Korban
yang meninggal
|
Referensi
Krisanti P., Manurung
S., Suratun., Wartonah., Sumartini., Dalami E., Rohimah., Setiawati S. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta:
Trans Info Media
NANDA International.
2014. Nursing Diagnoses Definitions and
Classification 2015 – 2017. Tenth edition. Wiley Balckwell
No comments:
Post a Comment